Kecelakaan beruntun yang terjadi di KM 54,600 A sekitar pukul 11.45 WIB melibatkan enam kendaraan. Satu orang meninggal dunia, sementara dua pengemudi lainnya mengalami luka berat dan ringan akibat benturan berantai yang terjadi di lajur kiri jalan tol.
Kepala Satuan Patroli Jalan Raya Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Rieki Indra Bratamaanggala menjelaskan, seluruh kendaraan saat itu melaju dari arah Bintara menuju Cakung. Kondisi lalu lintas di depan sedang melambat karena kepadatan sehingga lima kendaraan yang berada di depan telah mengurangi kecepatan.
Namun, truk engkel bernomor polisi F 9539 FD yang dikemudikan Gandi Sugandi, 59 tahun, justru terus melaju. Polisi menduga pengemudinya mengalami micro sleep, kehilangan konsentrasi sejenak, dan gagal menjaga jarak aman dengan kendaraan di depannya.
Benturan pertama terjadi ketika truk tersebut menghantam bagian belakang sebuah truk trailer. Daya dorong yang besar memicu tabrakan berantai. Truk trailer terdorong ke depan dan menabrak kendaraan berikutnya, lalu berlanjut ke sebuah truk ringan, truk trailer lain, mobil boks, hingga sebuah pikap di urutan paling depan. Seluruh kendaraan akhirnya bertumpuk di lajur satu dan sebagian bahu jalan.
Benturan paling keras justru dialami truk yang menjadi penyebab tabrakan. Bagian depannya ringsek dan menjepit Gandi di balik kemudi. Petugas mengevakuasi korban dalam kondisi meninggal dunia dan membawa jenazahnya ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati.
Dua pengemudi lain turut menjadi korban. Hamdan Hidayat, pengemudi mobil boks, mengalami luka berat, sedangkan Jajang Irawan, pengemudi truk trailer, mengalami luka ringan. Keduanya mendapat perawatan di RS Mitra Keluarga Jati Asih.
Setelah proses olah tempat kejadian perkara dan evakuasi kendaraan selesai dilakukan untuk mengurai kepadatan lalu lintas, penanganan kasus dilimpahkan kepada Unit Kecelakaan Lalu Lintas Polres Metro Jakarta Timur.
Kasus ini kembali mengingatkan bahaya micro sleep, kondisi ketika seseorang tertidur hanya beberapa detik tanpa disadari. Dalam kecepatan tinggi di jalan tol, jeda sesingkat itu sudah cukup membuat pengemudi kehilangan kendali, sementara konsekuensinya dapat berujung pada hilangnya nyawa. (ihd)














