Ketika NPD Teriak NPD

Senin, 20 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi - NPD teriak NPD. (Ihade)

Ilustrasi - NPD teriak NPD. (Ihade)

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta – Di era media sosial, istilah-istilah psikologi semakin akrab di telinga publik. Kata-kata seperti gaslightingplaying victimtoxicred flag, hingga narcissistic personality disorder (NPD) meluncur begitu saja dalam percakapan sehari-hari. Sayangnya, semakin populer sebuah istilah, semakin sering pula ia dipakai secara serampangan.

Ironisnya, ada satu fenomena yang belakangan kian sering muncul: seseorang yang memiliki kecenderungan narsistik justru menjadi pihak yang paling lantang menuduh orang lain sebagai narsistik. Ia menuduh lawan bicaranya haus validasi, gemar memainkan peran korban, atau sengaja memanipulasi emosi. Padahal, tuduhan-tuduhan itu bisa jadi merupakan cerminan dirinya sendiri.

Dalam psikologi, gejala seperti ini dikenal sebagai proyeksi, yakni mekanisme pertahanan diri ketika seseorang mengalihkan sifat, dorongan, atau kelemahannya kepada orang lain agar ia tidak perlu mengakuinya pada diri sendiri.

Ketika Ego Terluka

Setiap orang tentu pernah tersinggung. Namun, pada individu dengan kecenderungan narsistik, kritik atau penolakan sering kali memicu apa yang dikenal sebagai narcissistic injury — luka pada ego yang terasa begitu menyakitkan.

Alih-alih mengolah rasa malu atau bersalah secara sehat, mereka justru mencari cara untuk mengembalikan citra diri yang menurut mereka harus selalu tampak sempurna. Salah satu caranya adalah membalikkan keadaan.

Lawan bicara yang sekadar berbeda pendapat tiba-tiba dicap sebagai pencari perhatian. Orang yang membela diri dituduh sedang playing victim. Bahkan, orang yang memilih diam pun bisa dianggap sedang melakukan manipulasi.

Perdebatan tidak lagi berpusat pada isi persoalan, melainkan bergeser menjadi serangan terhadap karakter.

“Haus Validasi”, Padahal Siapa?

Tuduhan bahwa seseorang adalah “tukang minta validasi” sering terdengar dalam konflik pribadi maupun media sosial.

Padahal, kebutuhan akan pengakuan merupakan salah satu ciri yang banyak dikaitkan dengan kepribadian narsistik. Mereka membutuhkan kekaguman dari lingkungan sebagai “bahan bakar” untuk mempertahankan citra dirinya.

Karena itu, ketika ada orang lain yang memperoleh perhatian atau sekadar mempertahankan pendapatnya, situasi tersebut dapat dipersepsikan sebagai ancaman.

Akibatnya, tuduhan “haus validasi” justru menjadi senjata untuk mengalihkan perhatian dari kebutuhan validasi yang sebenarnya ada pada dirinya sendiri.

“Playing Victim”, Senjata yang Berbalik Arah

Istilah lain yang kerap dipakai adalah playing victim.

Dalam hubungan yang tidak sehat, pelaku manipulasi sering kali menempatkan dirinya sebagai korban. Setelah menyerang secara verbal, ia akan merasa dizalimi ketika korbannya mulai membela diri, menarik jarak, atau menolak dikendalikan.

Narasi pun dibalik.

Korban dianggap sebagai pelaku. Sementara pelaku tampil sebagai pihak yang paling tersakiti.

Dengan cara itu, ia memperoleh pembenaran moral untuk melanjutkan serangan sekaligus mempertahankan simpati orang-orang di sekitarnya.

Mengapa Korban Mulai Meragukan Diri Sendiri?

Di sinilah muncul fenomena yang dikenal sebagai gaslighting.

Korban dibuat terus mempertanyakan dirinya sendiri.

“Jangan-jangan memang aku yang salah.”

“Jangan-jangan aku memang terlalu sensitif.”

“Jangan-jangan aku benar-benar haus perhatian.”

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar hingga korban kehilangan kepercayaan terhadap penilaian dirinya sendiri.

Bagi pelaku manipulasi, kondisi ini menguntungkan. Orang yang ragu terhadap dirinya akan jauh lebih mudah dikendalikan dibandingkan orang yang yakin terhadap batas-batas pribadinya.

Membaca Tuduhan dengan Kepala Dingin

Bukan berarti setiap orang yang mengatakan “kamu playing victim” pasti seorang narsistik. Tidak sesederhana itu. Diagnosis NPD hanya dapat ditegakkan oleh tenaga kesehatan mental melalui evaluasi profesional.

Namun, ketika tuduhan semacam itu muncul berulang kali dalam pola hubungan yang dipenuhi penghinaan, pembalikan fakta, dan upaya mengendalikan orang lain, masyarakat patut lebih waspada.

Respons yang sering disarankan para praktisi kesehatan mental bukanlah melawan dengan kemarahan, melainkan menjaga jarak emosional. Teknik yang populer disebut grey rock menganjurkan agar seseorang memberikan respons datar, singkat, dan tidak emosional sehingga tidak memberi “bahan bakar” bagi konflik yang terus dipelihara pelaku manipulasi.

Kalimat sederhana seperti, “Kalau itu penilaianmu, saya menghargainya,” sering kali lebih efektif daripada perdebatan panjang yang tak pernah berujung.

Jangan Mudah Percaya pada Label

Masyarakat kini semakin akrab dengan bahasa psikologi. Itu perkembangan yang baik. Namun, istilah psikologis semestinya membantu orang memahami diri, bukan menjadi senjata untuk menjatuhkan orang lain.

Ketika seseorang terlalu mudah melabeli orang lain sebagai narsistik, haus validasi, atau playing victim, justru ada baiknya publik bertanya lebih dulu: apakah label itu benar-benar menggambarkan orang yang dituduh, atau hanya sedang menjadi cermin bagi orang yang mengucapkannya?

Dalam banyak kasus hubungan yang manipulatif, tuduhan ternyata bukanlah potret korbannya. Ia justru menjadi bayangan yang dipantulkan oleh pelaku sendiri.

Maka, jika suatu hari Anda terus-menerus dituduh dengan berbagai label psikologis hingga mulai meragukan kewarasan diri sendiri, mungkin persoalannya bukan terletak pada siapa Anda, melainkan pada siapa yang sedang berbicara. (ihd)

 

Berita Terkait

Teh Hijau Tanpa Gula Berpotensi Turunkan Kolesterol, Tetap Perlu Gaya Hidup Sehat
Kebiasaan Makan Gorengan Saat Berbuka Picu Risiko Hati hingga Jantung
Tidur Larut Malam Dinilai Menghambat Penurunan Berat Badan
Pramono Memulai Satu Tahun Lalu, Ajak Warga Jakarta Beralih Total ke Angkutan Umum
Menbud Dorong Benteng Gunung Kunci-Palasari Jadi Cagar Budaya Nasional
Membunyikan Leher Memang Enak, Tapi Berisiko Cedera hingga Stroke
Srikandi, Inovasi Alumni MAN IC Serpong untuk Memilah Sampah Secara Otomatis
Pasca Libur Panjang, Jalan Santai Tak Cukup Kembalikan Kebugaran

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 16:15 WIB

Ketika NPD Teriak NPD

Minggu, 19 Juli 2026 - 17:11 WIB

Teh Hijau Tanpa Gula Berpotensi Turunkan Kolesterol, Tetap Perlu Gaya Hidup Sehat

Minggu, 22 Februari 2026 - 12:56 WIB

Kebiasaan Makan Gorengan Saat Berbuka Picu Risiko Hati hingga Jantung

Senin, 16 Februari 2026 - 18:21 WIB

Tidur Larut Malam Dinilai Menghambat Penurunan Berat Badan

Kamis, 22 Januari 2026 - 19:38 WIB

Pramono Memulai Satu Tahun Lalu, Ajak Warga Jakarta Beralih Total ke Angkutan Umum

Berita Terbaru