Bareskrim Ungkap Dugaan Awal Motif Penyiksaan Anak di Kebayoran Lama

Senin, 15 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dua tersangka dalam kasus dugaan penyiksaan anak berinisial AMK yang ditemukan di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada bulan Juni lalu. (Divisi Humas Polri)

Dua tersangka dalam kasus dugaan penyiksaan anak berinisial AMK yang ditemukan di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada bulan Juni lalu. (Divisi Humas Polri)

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Direktorat Tindak Pidana Pelindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA dan PPO) Bareskrim Polri mengungkapkan motif awal dugaan penyiksaan terhadap AMK (9), anak yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Dua orang ditetapkan sebagai tersangka, yakni SNK (42), ibu kandung korban, dan EF alias YA (40), pasangan SNK. Keduanya diduga melakukan kekerasan dan penelantaran terhadap anak.

“Dari keterangan awal, pelaku menyebut faktor beban dan perilaku anak yang dianggap nakal,” ujar Direktur PPA dan PPO Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Nurul Azizah, Senin (15/9/2025). Ia menegaskan, penyidik bersama psikolog forensik masih mendalami keterangan tersebut.

Nurul menekankan bahwa alasan apa pun tidak dapat membenarkan tindak kekerasan terhadap anak. Dalam pemeriksaan, kedua tersangka telah mengakui perbuatan mereka terhadap korban.

Keterangan korban yang didampingi pekerja sosial menjadi pintu masuk pengungkapan kasus ini. AMK menyebut kerap dipukul, ditendang, disiram bensin, hingga dibakar wajahnya oleh EF yang dipanggilnya “Ayah Juna”. Dalam kesaksiannya, korban dengan lirih berkata, “Aku tidak mau bertemu Ayah Juna, aku mau dia dikubur dan dikasih kembang.”

Selain itu, SNK diduga mengetahui penyiksaan yang dialami anaknya dan setuju meninggalkan korban di Jakarta.

Kedua tersangka dijerat dengan Pasal 76B jo. 77B dan Pasal 76C jo. 80 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, serta Pasal 354 KUHP tentang penganiayaan berat. Ancaman hukuman maksimal adalah delapan tahun penjara dan denda hingga Rp 100 juta.

Kasus ini mencuat setelah AMK ditemukan pada 11 Juni 2025 di Pasar Kebayoran Lama. Ia terbaring di atas kardus dengan kondisi tubuh penuh luka, mengalami patah tulang, luka bakar di wajah, serta tanda-tanda malnutrisi. (ihd)

Berita Terkait

Hari Pertama Memimpin, Suyudi Rombak Polri dari Mabes sampai Polda
Kepemimpinan Sigit Berakhir Setelah Menyeberangi Dua Era Presiden
Suyudi Ario Gantikan Sigit Pimpin Polri, Wahyu Hadiningrat Jadi Wakapolri
Kematian Sutrimo Lampaui Bulan Kedua, Polisi Belum Temukan Unsur Pidana
Apartemen di Lapas Cibinong Dibongkar, Lahannya Tetap Aset Pemkab Bogor
Tiga Dakwaan Menjerat Taufik Hidayat dalam Kasus Kekerasan terhadap YTR
Temuan Kementerian Imipas di Lapas Cibinong Berubah, Bappisus Perdalam Investigasi
Bebasnya Mary Jane, Pelajaran Panjang Perlindungan Pekerja Migran

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:23 WIB

Hari Pertama Memimpin, Suyudi Rombak Polri dari Mabes sampai Polda

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:31 WIB

Kepemimpinan Sigit Berakhir Setelah Menyeberangi Dua Era Presiden

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:29 WIB

Suyudi Ario Gantikan Sigit Pimpin Polri, Wahyu Hadiningrat Jadi Wakapolri

Rabu, 30 September 2026 - 20:23 WIB

Kematian Sutrimo Lampaui Bulan Kedua, Polisi Belum Temukan Unsur Pidana

Rabu, 30 September 2026 - 16:56 WIB

Apartemen di Lapas Cibinong Dibongkar, Lahannya Tetap Aset Pemkab Bogor

Berita Terbaru