JENDELANUSANTARA.COM, Yogyakarta — Suasana Idul Adha di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Yogyakarta atau Lapas Wirogunan tahun ini terasa berbeda. Selama tiga hari, para narapidana tak hanya menikmati hidangan berbahan daging kurban, tetapi juga hiburan musik dari musisi yang diundang khusus ke dalam lapas.
Kepala Lapas Kelas IIA Yogyakarta Marjiyanto mengatakan rangkaian perayaan Idul Adha telah dipersiapkan sejak jauh hari. Kegiatan dimulai dari shalat Id berjamaah hingga penyembelihan hewan kurban yang memungkinkan terjadi pula ‘perbaikan gizi’ pada para napi.
“Persiapan shalat Id dan penyembelihan hewan kurban sudah dilakukan jauh-jauh hari, mulai dari pengadaan hewan kurban sampai lokasi pelaksanaan,” kata Marjiyanto di Yogyakarta, Kamis, 28 Mei 2026.
Tahun ini, Lapas Yogyakarta menyembelih tiga ekor sapi dan delapan ekor kambing. Hewan kurban tersebut berasal dari partisipasi warga binaan, keluarga warga binaan, serta petugas lapas.
Pada hari pertama, panitia menyembelih satu ekor sapi dan tiga ekor kambing. Hari kedua dilakukan penyembelihan satu ekor sapi dan empat kambing. Sementara pada hari ketiga dijadwalkan satu sapi dan satu kambing dipotong.
Menurut Marjiyanto, kegiatan itu bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan bagian dari pembinaan spiritual bagi warga binaan. Ia berharap momentum Idul Adha dapat menjadi sarana refleksi tentang ketaatan dan pengorbanan.
“Makna Idul Adha ini agar kita bisa meneladani para nabi dan taat kepada perintah Allah,” ujarnya.
Lapas Yogyakarta juga melibatkan petugas dari dinas terkait untuk memeriksa kondisi organ hewan kurban setelah penyembelihan. Pemeriksaan dilakukan terhadap hati, limpa, dan paru-paru guna memastikan daging layak dikonsumsi.
Marjiyanto mengatakan satu organ hati sapi ditemukan dalam kondisi kurang sehat sehingga langsung dimusnahkan. “Secara umum pelaksanaan berjalan lancar,” kata dia.
Selain kegiatan keagamaan, suasana lapas juga dibuat lebih meriah dengan kehadiran musisi yang menghibur warga binaan. Gitaris grup band Jikustik, Ardi Nurdin atau Dadik Jikustik, mengaku terkejut setelah melihat langsung suasana di dalam Lapas Yogyakarta.
“Ini pertama kali saya masuk Lapas Jogja, ternyata jauh dari bayangan saya. Suasananya seperti di perumahan,” kata Dadik.
Ia menilai aktivitas di dalam lapas tak berbeda jauh dengan kehidupan masyarakat pada umumnya, termasuk kegiatan keagamaan yang berlangsung di masjid lapas. Dadik juga mengaku senang melihat antusiasme warga binaan saat bersama-sama mengolah daging kurban.
“Saya senang bisa bertemu sedulur-sedulur di sini, mereka terlihat antusias dan kompak,” ujarnya. (ihd)














