Tradisi Ndandakke Kembali Populer, Daging Kurban Diolah Jadi Abon Bernilai Ekonomis

Jumat, 29 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎JENDELANUSANTARA.COM, Jogja – Tradisi “ndandakke” yang dulu identik dengan kehidupan anak kos ternyata masih bertahan hingga sekarang.

Bedanya, jika dahulu membawa nasi dan telur ke penjual nasi goreng, kini masyarakat di Kota Jogja dan Kabupaten Bantul ramai-ramai “ndandakke” daging qurban menjadi abon siap santap yang tahan lama dan praktis dikonsumsi.

Fenomena itu terlihat di rumah produksi milik Angga atau yang akrab disapa Koh Angga di kawasan Jalan Karanglo, Kotagede, tepatnya depan Batik Paradise.

Selama kurang lebih 17 tahun, Koh Angga menekuni usaha rumahan pengolahan abon daging qurban dengan cita rasa khas rumahan yang tetap diminati hingga sekarang.

“Biasanya kalau musim qurban memang ramai sekali. Orang-orang banyak yang ingin dagingnya awet dan praktis dimakan kapan saja. Tahun ini saya sempat mengolah sekitar 130 kilogram daging,” ujar Koh Angga saat ditemui di rumah produksinya, Jumat (29/5/2026).

Koh Angga menjelaskan, setiap satu kilogram daging qurban dikenakan biaya jasa pengolahan sebesar Rp60 ribu.

Meski menggunakan peralatan sederhana, abon buatannya justru banyak dicari pelanggan karena memiliki tekstur serat daging yang masih terasa dengan pilihan rasa gurih dan pedas.

“Kalau sedang penuh pesanan, memang harus sabar menunggu. Semua saya kerjakan pelan-pelan supaya rasa dan kualitasnya tetap terjaga,” jelasnya.

Ramainya permintaan membuat pelanggan harus rela antre hingga satu minggu lamanya. Namun hal itu tak menyurutkan minat warga untuk mengolah daging qurban menjadi abon.

Selain lebih tahan lama, abon dinilai praktis dijadikan lauk harian maupun bekal perjalanan.

Salah satu pelanggan, Nurul, mengaku sudah beberapa kali mempercayakan daging qurbannya kepada Koh Angga.

“Walaupun alatnya sederhana, hasil abon Koh Angga itu enak dan serat dagingnya masih terasa. Menurut saya tidak kalah dengan abon produksi mesin modern,” ungkap Nurul.

Dengan ketekunan yang dijalani bertahun-tahun, usaha rumahan Koh Angga kini menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin menikmati olahan daging qurban dengan rasa khas rumahan.(waw)

Berita Terkait

Konferensi Republik UGM Dorong Persatuan Aktivis untuk Selamatkan Demokrasi
Sekda Sleman Purnatugas, Harda Sampaikan Apresiasi dan Pesan Haru
UWM Tegaskan Pentingnya Spirit Ibrahim dalam Menjaga Moral Generasi Bangsa
Kebaya Milenial Kian Mendunia, DPRD Sleman Beri Dukungan Penuh kepada KKI
Kinderstation School Hadirkan Cerita Kita Fest 2026, Puncak Apresiasi Kreativitas Musik Generasi Muda di Yogyakarta
Konferensi ICONPO 2026 di Hungaria Hadirkan Akademisi UMY sebagai Key Panel Speaker
Dosen UMY Dampingi Penguatan Pokdarwis untuk Wujudkan Desa Wisata Berkelanjutan di Semoyo
Pakar UMY: Surplus Listrik Tidak Menjamin Ketahanan Sistem Kelistrikan Sumatra

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 21:51 WIB

Konferensi Republik UGM Dorong Persatuan Aktivis untuk Selamatkan Demokrasi

Jumat, 29 Mei 2026 - 21:44 WIB

Sekda Sleman Purnatugas, Harda Sampaikan Apresiasi dan Pesan Haru

Jumat, 29 Mei 2026 - 20:22 WIB

Tradisi Ndandakke Kembali Populer, Daging Kurban Diolah Jadi Abon Bernilai Ekonomis

Jumat, 29 Mei 2026 - 20:15 WIB

Kebaya Milenial Kian Mendunia, DPRD Sleman Beri Dukungan Penuh kepada KKI

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:52 WIB

Kinderstation School Hadirkan Cerita Kita Fest 2026, Puncak Apresiasi Kreativitas Musik Generasi Muda di Yogyakarta

Berita Terbaru

Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jakarta (Jennus)

Pendidikan

Ternyata Masih Ada Pungli dan Titipan Calon Siswa dalam SPMB

Jumat, 29 Mei 2026 - 23:12 WIB

Internasional

AS Ketahuan Ngarang Lagi, Iran Takkan Pernah Lepaskan Uranium

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:55 WIB