Pakar UMY: Surplus Listrik Tidak Menjamin Ketahanan Sistem Kelistrikan Sumatra

Jumat, 29 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, Pemadaman listrik massal (blackout) yang melumpuhkan delapan provinsi di Pulau Sumatra pada Jumat (22/05/2026) hingga Minggu (24/05/2026) lalu menyisakan evaluasi besar bagi dunia kelistrikan nasional. Peristiwa ini sekaligus mengungkap sebuah paradoks: sistem kelistrikan justru kolaps dalam waktu singkat di tengah kondisi kapasitas pembangkit yang sebenarnya surplus.

Pakar Sistem Tenaga Listrik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Rahmat Adiprasetya Al Hasibi, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., menegaskan bahwa bencana kelistrikan berskala pulau ini bukan semata-mata akibat putusnya satu kabel transmisi. Menurutnya, insiden tersebut merupakan cerminan dari kelemahan sistemik pada desain jaringan kelistrikan yang sudah berlangsung lama.

“Gangguan yang berpusat pada saluran transmisi 275 kV di wilayah Jambi tersebut hanyalah pemicu awal (trigger). Yang mengubahnya menjadi bencana besar adalah ketidakmampuan sistem untuk mengisolasi gangguan sejak titik pertama, sehingga terjadi efek domino secara berantai,” ujar Rahmat saat memberikan keterangan pada Jumat (29/05/2026).

Efek Domino Akibat Terpecahnya Sistem

Rahmat menjelaskan bahwa ketika gangguan pada jalur transmisi utama terjadi, sistem interkoneksi Sumatra yang sebelumnya terhubung dalam satu jaringan besar mendadak terpisah menjadi pulau-pulau kecil (subsistem). Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan frekuensi dan tegangan yang fatal di setiap wilayah yang terisolasi.

Sebagian subsistem mengalami kelebihan pasokan karena kehilangan beban secara mendadak, sementara subsistem lainnya justru mengalami defisit karena terputus dari sumber pembangkit utama.

“Dua kondisi tersebut sama-sama berbahaya bagi stabilitas listrik. Ketika pasokan kurang, frekuensi sistem turun dan pembangkit akan keluar dari jaringan secara otomatis untuk melindungi peralatan. Sebaliknya, saat pasokan berlebih, frekuensi meningkat dan memicu mekanisme proteksi yang sama. Ini yang membuat efeknya menjalar sangat cepat ke seluruh sistem,” jelasnya.

Menyoal Kualitas Redundansi dan Cadangan Listrik

Meskipun sistem Sumatra sebenarnya telah dilengkapi jalur redundansi (jalur cadangan), bahkan memiliki dua hingga empat rangkaian transmisi pada beberapa ruas, Rahmat mempertanyakan kualitas penempatannya.

“Pertanyaannya, apakah redundansi itu benar-benar terpisah secara geografis? Kalau rangkaian cadangan itu berada di koridor fisik yang sama, satu gangguan tunggal (seperti pohon tumbang atau sambaran petir) tetap berpotensi melumpuhkan seluruh rangkaian sekaligus,” sorotnya.

Selain masalah jalur, Rahmat juga membongkar masalah kesiapan cadangan listrik ( spinning reserve ). Ia menyebutkan bahwa cadangan listrik tidak hanya soal jumlah kapasitas di atas kertas, melainkan kecepatan responsnya saat darurat.

Banyak cadangan listrik di Sumatra merupakan cadangan tidak berputar ( non-spinning reserve ) yang membutuhkan waktu lama untuk diaktifkan. Akibatnya, saat krisis terjadi pada jam beban puncak (sekitar pukul 19.00 WIB), subsistem yang terpecah tidak memiliki ketahanan mandiri untuk bertahan dalam hitungan detik. Rahmat menilai sistem proteksi saat ini masih terlalu fokus melindungi peralatan individual, bukan menghentikan penyebaran gangguan secara sistemik.

Mendesak Perubahan Paradigma PLN

Berkaca dari insiden ini, dosen Teknik Elektro UMY tersebut mendesak PT PLN (Persero) untuk segera mengubah paradigma perencanaan sistem kelistrikan nasional. Selama ini, perencanaan cenderung hanya berfokus pada kecukupan pasokan listrik secara agregat di tingkat regional, namun mengabaikan ketahanan tiap-tiap subsistem.

Rahmat merekomendasikan agar PLN segera melakukan simulasi ulang skenario gangguan besar, khususnya pada kondisi beban puncak, untuk mengidentifikasi titik-titik lemah jaringan transmisi yang belum terpetakan.

“Ke depan, perencanaan sistem tidak cukup hanya memastikan total kapasitas pembangkit mencukupi atau surplus. Ketahanan setiap subsistem juga harus diperhitungkan agar mampu beroperasi secara mandiri ketika terjadi gangguan pada jaringan utama. Jika pendekatan ini tidak diubah, risiko kejadian serupa akan tetap ada di masa mendatang,” tegas Rahmat. (lsi)

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Transformasi Digital di Condongcatur Kian Ngebut, SIDES Permudah Layanan Warga
Bantu Warga Kurang Mampu, Aksi Sosial Bedah Rumah Polri Diapresiasi STAK Yogyakarta
Penguatan Aksi Jadi Kunci, FISIPOL UWM Susun Program Kerja Satu Tahun ke Depan
Ketekunan Mengantar Sabrina Sapu Bersih TKAD dengan Nilai Maksimal
LAPMI HMI Yogyakarta Hadirkan Diskusi Strategis tentang Masa Depan Jurnalisme
ARTJOG 2026 Angkat Tema Ars Longa: Generatio, Hadirkan Dialog Lintas Generasi dalam Perayaan Seni Terbesar di Yogyakarta
Winongo Art Festival 2026, Kemantren Ngampilan Angkat Potensi Sungai, Budaya, dan UMKM
Fakultas Hukum UWM Dorong Literasi Digital dan Peluang Beasiswa bagi Masyarakat

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 19:42 WIB

Transformasi Digital di Condongcatur Kian Ngebut, SIDES Permudah Layanan Warga

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:48 WIB

Bantu Warga Kurang Mampu, Aksi Sosial Bedah Rumah Polri Diapresiasi STAK Yogyakarta

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:36 WIB

Penguatan Aksi Jadi Kunci, FISIPOL UWM Susun Program Kerja Satu Tahun ke Depan

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:04 WIB

Ketekunan Mengantar Sabrina Sapu Bersih TKAD dengan Nilai Maksimal

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:27 WIB

LAPMI HMI Yogyakarta Hadirkan Diskusi Strategis tentang Masa Depan Jurnalisme

Berita Terbaru