JENDELANUSANTARA.COM, Beirut — Kerusakan parah dan puing-puing bangunan terlihat di sejumlah kawasan pinggiran selatan Beirut, Lebanon, Sabtu (7/3/2026), setelah gelombang serangan udara Israel mengguncang wilayah tersebut pada Jumat malam. Serangan ini menjadi bagian dari eskalasi konflik bersenjata antara Israel dan kelompok Hizbullah yang kembali memanas sejak awal Maret.
Kawasan Dahieh —wilayah padat penduduk yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah di selatan Beirut—dilaporkan menjadi salah satu target utama serangan udara Israel. Ledakan besar merusak sejumlah bangunan dan memicu kepanikan warga yang berusaha menyelamatkan diri dari area terdampak.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan bahwa sejak Senin (2/3/2026) lebih dari 200 orang tewas dan lebih dari 800 lainnya terluka akibat rangkaian serangan udara Israel di berbagai wilayah Lebanon. Serangan tersebut juga memicu gelombang pengungsian warga sipil dari kawasan selatan negara itu.
Respons atas serangan Hizbullah
Militer Israel menyebut operasi udara tersebut sebagai respons terhadap serangan roket dan drone yang diluncurkan Hizbullah ke wilayah Israel utara pada awal pekan. Kelompok bersenjata yang berbasis di Lebanon itu mengklaim serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran dalam konflik regional yang lebih luas.
Dalam beberapa hari terakhir, Hizbullah dilaporkan menargetkan sejumlah instalasi militer Israel, termasuk pangkalan udara dan fasilitas pemantauan di wilayah utara negara tersebut. Serangan balasan Israel kemudian menyasar berbagai fasilitas yang diduga menjadi pusat komando, gudang senjata, hingga lokasi peluncuran rudal milik Hizbullah di Lebanon.
Konflik meluas di Timur Tengah
Ketegangan di perbatasan Israel–Lebanon saat ini merupakan bagian dari konflik regional yang lebih luas yang melibatkan Israel, Iran, serta kelompok-kelompok sekutu Teheran di Timur Tengah. Sejak akhir Februari 2026, perang yang dipicu oleh serangan udara terhadap Iran telah memicu aksi balasan di berbagai front, termasuk Lebanon, Suriah, dan wilayah Teluk.
Di Lebanon, intensitas serangan meningkat sejak 2 Maret ketika Hizbullah kembali meluncurkan roket ke Israel setelah periode relatif tenang pascagencatan senjata pada 2024. Israel kemudian menanggapi dengan serangan udara besar-besaran dan operasi militer di wilayah selatan dan timur Lebanon.
Selain menimbulkan korban jiwa, konflik tersebut juga memicu krisis kemanusiaan baru. Badan-badan internasional melaporkan puluhan ribu warga Lebanon terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk menghindari pertempuran yang terus meluas.
Sejumlah negara dan organisasi internasional mendesak semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi. Namun hingga akhir pekan ini, serangan udara dan tembakan roket masih terus terjadi di sepanjang perbatasan Israel–Lebanon, menandakan bahwa konflik berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. (Reuters/ihd)














