JENDELANUSANTARA.COM, Tangerang – Rendahnya kadar hormon testosteron pada pria bukan hanya berdampak pada kehidupan seksual, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas di tempat kerja, kondisi psikologis, hingga meningkatkan risiko penyakit kronis. Karena itu, perubahan fisik maupun mental yang berlangsung terus-menerus tidak sebaiknya dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.
Dokter spesialis andrologi Eka Hospital BSD Tangerang, dr. Christian Christoper Sunnu, menjelaskan bahwa testosteron merupakan hormon yang memiliki peran penting dalam berbagai fungsi tubuh pria. Selain berhubungan dengan kesuburan melalui pembentukan sel sperma, hormon ini juga berperan dalam pembentukan massa otot, kepadatan tulang, pertumbuhan rambut, serta menjaga energi dan suasana hati.
Menurut Christian, pria dengan kadar testosteron rendah umumnya menunjukkan sejumlah gejala, mulai dari perubahan suasana hati, depresi, penurunan gairah seksual, disfungsi ereksi, hingga berkurangnya massa otot dan meningkatnya lemak tubuh. Kondisi tersebut juga dapat disertai kesulitan berkonsentrasi, daya ingat yang menurun, kelelahan berkepanjangan, penurunan performa kerja, rambut menipis atau rontok, penurunan kepadatan tulang, serta gangguan tidur.
“Kadar testosteron yang rendah terasosiasi dengan masalah kesehatan sindrom metabolik seperti kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, obesitas, dan gula darah tinggi, sehingga meningkatkan risiko serangan jantung maupun stroke,” ujar Christian di Tangerang, Rabu (29/7/2026).
Ia menambahkan, testosteron juga menjadi salah satu indikator utama kesuburan pria. Hormon ini berperan dalam proses tumbuh kembang laki-laki sejak masa pubertas, termasuk membentuk karakteristik seksual sekunder seperti pertumbuhan rambut di wajah, perkembangan organ reproduksi, serta pembentukan otot.
Untuk mengatasi kondisi kekurangan testosteron, tersedia sejumlah pilihan terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Salah satunya adalah terapi penggantian hormon testosteron melalui suntikan yang diberikan ke jaringan otot dengan interval antara satu hingga 14 hari.
Selain itu, testosteron sintetis juga tersedia dalam bentuk gel atau krim yang dioleskan setiap hari pada kulit lengan atas, bahu, atau paha. Pilihan lain berupa plester hormon yang ditempelkan pada kulit pada sore hari sehingga melepaskan testosteron secara bertahap selama 24 jam.
Christian mengatakan terapi juga dapat dilakukan melalui obat oral, sediaan yang ditempelkan pada gusi atau bagian dalam pipi agar hormon terserap ke aliran darah, maupun implan testosteron yang ditanam di bawah kulit, umumnya di area pinggul atau bokong, dan diganti setiap tiga hingga enam bulan.
Meski demikian, terapi medis bukan satu-satunya cara untuk menjaga keseimbangan hormon. Penerapan gaya hidup sehat tetap menjadi fondasi penting dalam mempertahankan kadar testosteron.
Berolahraga secara teratur, menjaga berat badan ideal, serta memenuhi kebutuhan tidur selama sedikitnya enam hingga delapan jam setiap malam dapat membantu menjaga produksi hormon testosteron tetap optimal sekaligus mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh. (ihd)














