JENDELANUSANTARA.COM, Teheran —Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyasar infrastruktur vital Iran. Namun, ancaman tersebut tidak menggoyahkan sikap Teheran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru mencemooh pernyataan Washington sebagai cerminan keputusasaan menghadapi keteguhan bangsa Iran.
Melalui unggahan di media sosial X, Rabu (10/6/2026), Pezeshkian menegaskan bahwa ancaman terhadap pembangkit listrik, jaringan transportasi, hingga fasilitas air bersih tidak menunjukkan kekuatan sebuah negara. Sebaliknya, langkah itu dinilainya sebagai tanda ketidakmampuan menundukkan semangat perlawanan rakyat Iran.
“Infrastruktur vital adalah denyut nadi kehidupan masyarakat. Mengancam untuk menghancurkannya bukanlah unjuk kekuatan, melainkan tanda keputusasaan menghadapi keteguhan sebuah bangsa,” tulis Pezeshkian.
Presiden Iran itu juga menegaskan negaranya akan tetap bertahan menghadapi berbagai tekanan eksternal. Dengan mengandalkan kemampuan para ahli dalam negeri serta menjaga persatuan nasional, Iran diyakini mampu melewati situasi yang semakin memanas.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump menyampaikan ultimatum baru kepada Teheran. Dalam unggahan di Truth Social dan wawancara yang dikutip media AS, Trump menuduh Iran terlalu lama menunda kesepakatan dengan Washington. Ia bahkan membuka kemungkinan memerintahkan serangan lanjutan terhadap fasilitas strategis Iran.
“Mereka memiliki kesempatan untuk menandatangani kesepakatan dan bertahan hidup,” ujar Trump.
Di lapangan, eskalasi konflik terus berlangsung. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan telah melaksanakan serangan yang disebut sebagai tindakan pertahanan diri terhadap sejumlah target Iran. Operasi itu diklaim sebagai respons atas insiden yang melibatkan helikopter Apache militer AS dan serangan terhadap pasukan serta kapal-kapal komersial di kawasan.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan telah melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Iran juga menuduh Washington menyerang beberapa lokasi di wilayah Jask, Sirik, dan Pulau Qeshm di bagian selatan negara tersebut.
Rangkaian saling serang itu menunjukkan bahwa ruang diplomasi antara kedua negara semakin menyempit. Di tengah ancaman terhadap infrastruktur dan aksi militer yang terus berbalas, kawasan Timur Tengah kembali menghadapi risiko ketidakstabilan yang lebih luas. (ihd)














