Iran Mau Hentikan Perang Asal AS Cairkan Rp432 Triliun Aset yang Beku pada Tahap Kesepakatan

Jumat, 5 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi - Istana Presiden Iran. (Jennus)

Ilustrasi - Istana Presiden Iran. (Jennus)

JENDELANUSANTARA.COM, Teheran — Iran akhirnya bersedia menerima permintaan Amerika Serikat untuk menghentikan perang. Tapi sikap lunak Teheran masih dengan syarat: Gedung Putih harus mencairkan sedikitnya 50 persen aset luar negeri miliknya yang selama ini dibekukan, segera setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait penyelesaian sengketa yang dinegosiasikan.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, Kamis (4/6/2026), menegaskan bahwa pencairan aset merupakan salah satu syarat penting bagi Teheran dalam proses penyelesaian konflik dengan Washington.

“Iran bersikeras sedikitnya 50 persen aset beku harus dicairkan kepada Teheran segera setelah nota kesepahaman ditandatangani, sementara sisanya dapat dicairkan dalam jangka waktu yang wajar,” ujar Gharibabadi sebagaimana dikutip kantor berita Mehr.

Sebelumnya, pada Mei 2026, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Iran mengajukan proposal penyelesaian 14 poin kepada Amerika Serikat. Dalam usulan tersebut, Teheran meminta pencairan aset luar negeri senilai 24 miliar dollar AS atau sekitar Rp432 triliun.

Menurut sumber yang dekat dengan tim perunding Iran, separuh dana tersebut diharapkan dapat dicairkan pada tahap awal setelah tercapai nota kesepahaman untuk mengakhiri perselisihan antara kedua negara. Adapun sisanya diusulkan untuk dicairkan pada tahap berikutnya seiring kemajuan perundingan mengenai program nuklir Iran.

Tasnim juga melaporkan bahwa proses pencairan dana tahap pertama telah menunjukkan perkembangan, meski belum dijelaskan lebih lanjut mengenai mekanisme maupun jadwal realisasinya.

Tuntutan pencairan aset beku menjadi salah satu isu krusial dalam perundingan Iran dan Amerika Serikat yang bertujuan mengurangi ketegangan serta membuka jalan bagi kesepakatan baru terkait program nuklir Teheran. (Sputnik/RIA Novosti)

Berita Terkait

Delegasi Indonesia, UMJ Press dan APPTIMA Hadiri International Publishers Congress 2026 di Kuala Lumpur
Jerman Undang Tenaga Kerja Indonesia untuk Berkarier, Belajar, dan Menetap
UMY Perkokoh Reputasi Internasional dengan Menjalin Kemitraan Strategis di Laos
Jelang Pemakaman Khamenei, Militer Iran Peringatkan AS dan Israel agar Tak Picu Eskalasi
IRGC Klaim Serang Basis Militer AS di Kuwait dan Bahrain, Diplomasi Iran-AS Kembali Teruji
Gempa Venezuela Tewaskan 1.430 Orang, Ribuan Warga Terluka dan Terdampak
Teknologi Pengolah Sampah Jadi Listrik di China Diyakini Siap Diterapkan di Bantargebang
Wali Kota Bekasi: Proyek PSEL Harus Beri Manfaat Nyata bagi Masyarakat Lokal

Berita Terkait

Minggu, 5 Juli 2026 - 07:13 WIB

Delegasi Indonesia, UMJ Press dan APPTIMA Hadiri International Publishers Congress 2026 di Kuala Lumpur

Sabtu, 4 Juli 2026 - 08:58 WIB

Jerman Undang Tenaga Kerja Indonesia untuk Berkarier, Belajar, dan Menetap

Jumat, 3 Juli 2026 - 16:32 WIB

UMY Perkokoh Reputasi Internasional dengan Menjalin Kemitraan Strategis di Laos

Kamis, 2 Juli 2026 - 20:39 WIB

Jelang Pemakaman Khamenei, Militer Iran Peringatkan AS dan Israel agar Tak Picu Eskalasi

Senin, 29 Juni 2026 - 11:25 WIB

IRGC Klaim Serang Basis Militer AS di Kuwait dan Bahrain, Diplomasi Iran-AS Kembali Teruji

Berita Terbaru