JENDELANUSANTARA.COM, Lumajang — Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas erupsi yang intens pada Senin (28/9/2026) malam. Dalam kurun waktu sekitar tiga jam, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat meletus enam kali, dengan kolom abu tertinggi mencapai 900 meter di atas puncak.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 18.14 WIB. Kolom abu teramati sekitar 400 meter di atas puncak dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang ke arah selatan.
Aktivitas kemudian berlanjut. Pada pukul 18.35 WIB, kolom abu membubung sekitar 800 meter di atas puncak dan bergerak ke arah barat daya.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, mengatakan erupsi ketiga terjadi pada pukul 18.53 WIB. Kali ini, kolom letusan mencapai sekitar 900 meter di atas puncak dengan sebaran abu ke arah barat daya.
“Kolom letusan teramati sekitar 900 meter di atas puncak dan kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah barat daya,” kata Liswanto dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Semeru kembali erupsi pada pukul 20.06 WIB dengan kolom abu sekitar 800 meter di atas puncak. Selang sekitar 36 menit kemudian, erupsi kembali terjadi dengan ketinggian kolom abu mencapai 900 meter.
Erupsi keenam tercatat pada pukul 21.01 WIB. Kolom abu teramati sekitar 600 meter di atas puncak, masih dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas sedang ke arah barat daya.
Rangkaian erupsi tersebut terjadi ketika status aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Kondisi ini membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman material vulkanik, terutama di kawasan yang menjadi jalur aliran awan panas dan lahar.
Masyarakat tidak diperbolehkan melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak yang menjadi pusat erupsi.
Di luar radius tersebut, warga juga diminta menjauhi sempadan sungai sepanjang Besuk Kobokan dengan jarak 500 meter dari tepi sungai. Kawasan ini berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
Sementara itu, radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Semeru juga menjadi kawasan yang harus dihindari karena masih terdapat potensi lontaran batu pijar.
Liswanto mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai awan panas, guguran lava, dan lahar yang dapat meluncur mengikuti lembah dan aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru.
Ancaman terutama terdapat di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Potensi lahar juga dapat muncul di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai Besuk Kobokan.
Rangkaian erupsi pada Senin malam kembali menegaskan bahwa aktivitas Semeru masih dinamis. Karena itu, masyarakat di kawasan rawan diminta mengikuti rekomendasi keselamatan dan informasi resmi dari petugas pengamatan gunung api. (ihd)














