JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Upaya menjaga kelestarian lingkungan dinilai tidak cukup hanya mengandalkan aturan dan pendekatan teknis. Kesadaran masyarakat untuk merawat alam perlu pula dibangun melalui pendekatan keagamaan yang menyentuh dimensi moral dan batin manusia.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak para imam besar dan pemimpin agama memanfaatkan otoritas keagamaan mereka untuk menanamkan kesadaran tersebut kepada umat. Menurut dia, bahasa agama dapat menjadi sarana penting untuk mengingatkan manusia agar tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan.
”Mari juga menggunakan bahasa agama untuk menyadarkan diri kita untuk tidak gampang merusak alam. Perusakan alam sudah masuk pada ambang yang sangat membahayakan sekarang ini,” ujar Nasaruddin.
Pesan itu disampaikan Nasaruddin dalam rangkaian International Grand Imam Conference 2026 yang berlangsung di Jakarta, 25-28 September 2026. Pertemuan tersebut diikuti lebih dari 40 imam besar dari berbagai negara.
Menurut Nasaruddin, persoalan lingkungan memiliki kaitan erat dengan kehidupan manusia. Kerusakan alam yang terjadi akibat eksploitasi yang melampaui batas tidak hanya mengancam keberlanjutan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kehidupan dan perdamaian manusia.
Karena itu, menjaga alam, lanjut dia, perlu ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral manusia. Nilai-nilai keagamaan dapat digunakan untuk memperkuat kesadaran tersebut sehingga kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kepatuhan terhadap regulasi.
”Jika kita ingin hidup damai di muka bumi ini, persyaratannya adalah kita harus merawat dan memelihara alam,” kata Imam Besar Masjid Istiqlal itu.
Sebaliknya, eksploitasi alam tanpa kendali, menurut Nasaruddin, berpotensi membawa konsekuensi besar bagi kehidupan manusia. Ia menggambarkan kerusakan lingkungan sebagai ancaman yang dapat mempercepat datangnya bencana bagi kehidupan.
Posisi para imam dinilai strategis dalam menyampaikan pesan tersebut. Kedekatan imam dengan umat serta legitimasi keagamaan yang dimiliki memungkinkan isu lingkungan diterjemahkan ke dalam bahasa nilai dan ajaran yang lebih mudah dipahami masyarakat.
Nasaruddin juga menilai peran imam pada era modern semakin luas. Selain memimpin ibadah, imam dapat berperan sebagai pendidik perdamaian, penghubung antarkomunitas, serta diplomat masyarakat.
Peran tersebut, kata dia, termasuk mendorong masyarakat untuk membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab dengan lingkungan. Dengan demikian, kepedulian terhadap alam tidak dipandang sebagai isu sektoral, melainkan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
Melalui pertemuan para imam besar dunia di Jakarta, Nasaruddin berharap muncul kesepakatan yang dapat memperkuat diplomasi keagamaan sekaligus kesadaran bersama mengenai tanggung jawab manusia dalam menjaga alam.
”Di sinilah peranan penting hari ini, kita berkumpul bagaimana menggunakan bahasa agama untuk membangkitkan kesadaran kemanusiaan pada kita semuanya di kolong penghuni langit Tuhan Yang Maha Kuasa ini,” ujarnya. (ihd)














