JENDELANUSANTARA.COM, YOGYAKARTA – Kawasan Kotabaru Yogyakarta bukan sekadar kawasan yang dipenuhi bangunan lama, pepohonan rindang, serta jalan yang kerap menjadi pilihan masyarakat untuk berolahraga dan menikmati suasana kota.
Di balik kawasan yang kini dikenal sebagai salah satu ruang heritage Yogyakarta tersebut, tersimpan perjalanan sejarah panjang sejak era kolonial hingga masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Hal itu disampaikan Lana, seorang tour guide yang mendampingi peserta dalam tur sejarah kawasan Kotabaru dalam rangkaian Kotabaru Heritage Film Festival 2026, Kamis (17/9/2026).
Dalam tur tersebut, Lana mengajak peserta mengenal sejarah Kotabaru sekaligus sejumlah bangunan penting yang berada di kawasan tersebut.
Menurut Lana, sejarah keberadaan permukiman orang-orang Eropa di Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari perkembangan politik dan ekonomi setelah berdirinya Kesultanan Yogyakarta.
Ia menjelaskan, hunian orang Belanda di Yogyakarta berkembang secara bertahap. Salah satu kawasan awal yang menjadi tempat tinggal orang Belanda adalah Benteng Vredeburg yang dibangun pada 1756.
Setelah kawasan tersebut semakin padat, permukiman kemudian berkembang ke kawasan Loji Kecil dan selanjutnya Bintaran.
Perkembangan tersebut semakin pesat setelah berakhirnya sistem tanam paksa sekitar 1870 dan masuknya era ekonomi liberal. Masuknya modal asing kemudian mendorong berkembangnya industri perkebunan dan pabrik gula di Yogyakarta.
“Yogyakarta dikepung pabrik gula. Ada sekitar 19 pabrik gula yang berdiri di Yogyakarta sehingga kemudian banyak sekali orang Eropa datang lagi ke Yogyakarta,” ujar Lana.
Kawasan Bintaran yang semakin padat kemudian mendorong pemerintah kolonial mencari lahan baru untuk permukiman.
Lana menyebut, berdasarkan arsip Keraton, kawasan Kotabaru mulai dikembangkan pada 1917 setelah adanya izin dari pihak Kesultanan Yogyakarta pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Konsep kawasan tersebut dibuat sebagai permukiman baru dengan fasilitas pendukung. Tanah yang digunakan merupakan tanah Kesultanan, sementara bangunan dibangun pemerintah kolonial dan kemudian disewakan kepada perusahaan maupun penghuninya.
“Sebetulnya kawasan ini dulunya adalah tanah Kesultanan,” jelasnya.
Nama Kotabaru sendiri juga memiliki sejarah tersendiri. Lana menjelaskan, nama awal kawasan tersebut berasal dari istilah Belanda yang merujuk pada permukiman baru.
Setelah Indonesia merdeka, istilah tersebut kemudian diterjemahkan menjadi Kotabaru.
Sebagai kawasan permukiman, Kotabaru sejak awal tidak hanya dirancang untuk rumah tinggal.
Kawasan ini juga dilengkapi fasilitas publik, termasuk tempat ibadah, sekolah, serta ruang terbuka.
Konsep tersebut berkaitan dengan gagasan Garden City yang menjadi salah satu karakter kawasan Kotabaru.
Dalam tur tersebut, peserta diajak melihat sejumlah bangunan heritage yang menjadi saksi perkembangan kawasan, mulai dari gereja, sekolah hingga fasilitas publik lainnya.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah Gereja Huria Kristen Protestan Batak (HKPB) Yogyakarta yang memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial.
Lana menjelaskan, gereja tersebut dibangun untuk memenuhi kebutuhan umat Protestan yang tinggal di kawasan Kotabaru.
Sebelum memiliki gereja sendiri, umat Protestan disebut sempat menggunakan fasilitas pendidikan sebagai tempat ibadah.
Seiring bertambahnya jumlah jemaat, gereja kemudian dibangun sebagai fasilitas peribadatan permanen.
Namun, perjalanan gereja tersebut juga mengalami masa sulit ketika Jepang menduduki Indonesia.
Pada masa pendudukan Jepang, bangunan tersebut sempat digunakan sebagai tempat interniran bagi orang-orang Eropa yang ditahan.
“Jadi gereja ini pun akhirnya ditutup dan sempat dijadikan sebagai kamp interniran,” kata Lana.
Sejarah kawasan Kotabaru juga tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Gereja Santo Antonius Padua. Gereja Katolik tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perkembangan komunitas Katolik di kawasan Kotabaru.
Lana menjelaskan, pembangunan fasilitas pendidikan dan keagamaan Katolik di kawasan tersebut berkembang seiring bertambahnya umat.
Tidak hanya menyimpan cerita tentang permukiman kolonial, Kotabaru juga memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Menurut Lana, monumen tersebut didirikan untuk mengenang perjuangan para insan persandian atau sandiman yang memiliki peran dalam menyampaikan informasi rahasia pada masa perjuangan kemerdekaan.
Bangunan-bangunan di kawasan Kotabaru juga pernah digunakan oleh para pejuang persandian untuk menjalankan tugasnya.
“Para sandiman itu memecahkan kode-kode, mengirimkan kode-kode rahasia dan menyampaikan pesan-pesan penting,” ungkapnya.
Lana juga mengajak peserta memahami bagaimana informasi mengenai perjuangan Indonesia bisa disebarkan ke luar negeri pada masa ketika teknologi komunikasi belum seperti sekarang.
Pesan-pesan perjuangan harus disampaikan melalui jaringan komunikasi dan radio secara berantai hingga akhirnya dapat diketahui dunia internasional.
Keberadaan Monumen Sanapati menjadi pengingat bahwa kawasan Kotabaru bukan hanya kawasan hunian kolonial, tetapi juga pernah menjadi bagian dari perjalanan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Masjid yang dibangun pada 1952 tersebut memiliki cerita tersendiri karena pembangunannya berkaitan dengan kebutuhan masyarakat Muslim di kawasan Kotabaru setelah kemerdekaan.
Lana menjelaskan, sebelum Masjid Syuhada berdiri, kawasan Kotabaru yang sebelumnya didominasi masyarakat Eropa mulai dihuni masyarakat Muslim.
Sejumlah lokasi sempat dipertimbangkan untuk pembangunan masjid hingga akhirnya dipilih lokasi yang sekarang menjadi Masjid Syuhada.
Bangunan Masjid Syuhada juga memiliki sejumlah simbol yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia.
Salah satunya terdapat pada jumlah anak tangga yang disebut berjumlah 17. Kemudian bagian gerbang memiliki bentuk yang merepresentasikan angka 8, sementara struktur kubah menyimbolkan angka 45. Rangkaian angka tersebut merujuk pada 17 Agustus 1945.
Nama Syuhada sendiri berkaitan dengan penghormatan kepada para pejuang yang gugur dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
“Makanya bangunan masjid ini dinamakan Masjid Syuhada,” tutur Lana.
Dari perjalanan tersebut, peserta tur diajak melihat Kotabaru bukan sekadar sebagai kawasan dengan bangunan tua, melainkan ruang yang menyimpan berbagai lapisan cerita.
Mulai dari perkembangan permukiman Eropa, pendidikan, kehidupan keagamaan, pendudukan Jepang, perjuangan persandian hingga perkembangan masyarakat Indonesia setelah kemerdekaan.
Sejarah panjang tersebut membuat setiap sudut Kotabaru memiliki cerita yang menarik untuk ditelusuri.
Melalui kegiatan seperti tur heritage, cerita di balik bangunan-bangunan tersebut kembali diperkenalkan kepada generasi sekarang agar kawasan Kotabaru tidak hanya dikenal karena arsitekturnya, tetapi juga karena sejarah yang membentuknya. (Aga)














