JENDELANUSANTARA.COM, YOGYAKARTA — Film Para Perasuk karya sutradara Wregas Bhanuteja kini memiliki ruang yang lebih luas untuk menjangkau penonton setelah tersedia di platform streaming Netflix.
Film yang mengangkat kisah tentang tradisi kerasukan tersebut sebelumnya telah diputar di bioskop. Namun, jumlah penonton yang belum terlalu besar di layar lebar tidak serta-merta membuat Wregas menilai film tersebut tidak cocok bagi penonton Indonesia.
Wregas menyebut respons terhadap sebuah film ketika tayang di bioskop dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari tanggal tayang, jumlah layar yang tersedia, posisi film di tengah film-film lain yang sedang beredar, hingga kondisi yang terjadi di sekitar waktu penayangan.
“Kalau saya melihatnya ya bahwa ketika tayang di bioskop itu tentu saja faktornya banyak. Dalam artian tanggal tayang, jumlah layar, posisi film saat itu juga yang ditayangkan itu pasti juga faktor-faktor yang menentukan,” ujar Wregas Bhanuteja saat ditemui wartawan dalam gelaran Kotabaru Heritage Film Festival di Pasar Terban, Yogyakarta, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, penonton yang telah datang dan menyaksikan Para Perasuk di bioskop merupakan bagian penting dari perjalanan film tersebut.
Ia mengaku bersyukur karena filmnya telah menemukan jembatan dengan penonton yang bersedia datang dan menikmati cerita yang ditawarkan.
“Jadi ya saya apa pun yang penonton yang sudah datang saya mensyukuri. Karena berarti tercipta jembatan jaluran yang saya rasakan kepada penonton yang sudah datang,” katanya.
Kini, kehadiran Para Perasuk di Netflix menjadi kesempatan bagi film tersebut untuk bertemu dengan penonton yang sebelumnya belum sempat menyaksikannya di bioskop.
Para Perasuk bercerita tentang sebuah desa yang memiliki kegemaran menggelar pesta kerasukan bersama. Aktivitas tersebut bukan semata-mata dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan, tetapi justru menjadi bagian dari hiburan dan kesenangan masyarakat di dalam cerita.
Dalam pesta tersebut, para warga akan mengalami kerasukan roh binatang. Mereka kemudian seolah berpindah ke sebuah alam lain yang dipenuhi warna, keindahan, serta kenikmatan.
Cerita kemudian mengikuti seorang laki-laki bernama Bayu. Ia memiliki keinginan untuk menjadi seorang “prasuk”, sosok yang menyalurkan mantra kepada warga dalam ritual kerasukan tersebut. Bayu pun berlatih untuk menjadi prasuk terbaik di desanya.
Melalui cerita tersebut, Wregas menghadirkan pengalaman sinematik yang tidak hanya berkutat pada persoalan kerasukan, tetapi juga mengeksplorasi hubungan manusia dengan tradisi, pengalaman spiritual, serta dunia yang dibangun melalui perspektif karakter. (Aga)














