JENDELANUSANTARA.COM, YOGYAKARTA – Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 resmi dibuka di Pasar Terban, Kota Yogyakarta, Kamis (17/9/2026). Pembukaan festival film tersebut berlangsung dengan konsep ruang terbuka yang memadukan pemutaran film, pertunjukan seni, serta pengalaman budaya di tengah masyarakat.
Kotabaru Heritage Film Festival 2026 merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-270 Kota Yogyakarta. Festival ini menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk melihat warisan budaya melalui perspektif yang lebih luas, tidak semata-mata sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang terus berkembang.
Direktur Kotabaru Heritage Film Festival, Siska Raharja, mengatakan perjalanan penyelenggaraan festival sejak awal bukanlah hal yang mudah. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memperkenalkan warisan budaya bukan sekadar melalui definisi, melainkan sebagai sebuah cara pandang.
“Perjalanan yang tak mudah bagi kami sejak awal tantangan Kotabaru Heritage Film Festival adalah memperkenalkan warisan budaya bukan sebagai definisi, tapi sebagai cara pandang,” ujar Siska saat memberikan sambutan dalam pembukaan Kotabaru Heritage Film Festival 2026 di Pasar Terban, Kamis (17/9/2026).
Konsep pembukaan tahun ini turut menghadirkan pengalaman menonton film di ruang terbuka atau open-air cinema. Pemutaran film berlangsung di kawasan Pasar Terban dengan suasana malam Kota Yogyakarta dan melibatkan becak sebagai bagian dari pengalaman penonton.
Menurut Siska, konsep tersebut memberikan pengalaman yang berbeda bagi penonton karena festival tidak berlangsung dalam ruang bioskop konvensional. Suasana ruang terbuka, angin malam, serta kehadiran unsur seni dan budaya membuat pembukaan festival terasa lebih dekat dengan lingkungan dan masyarakat.
Sementara itu, sutradara film Para Perasuk, Wregas Bhanuteja, mengapresiasi konsep pemutaran film di ruang terbuka yang dihadirkan dalam pembukaan Kotabaru Heritage Film Festival 2026.
Wregas menyebut pemutaran Para Perasuk di ruang terbuka tersebut merupakan kali kedua setelah sebelumnya film tersebut diputar dalam Darwin Film Festival di Australia.
“Ini kali kedua. Pertamanya itu ditayangkan di Darwin Film Festival, Darwin Film Festival di Australia, yang mana itu adalah minggu lalu. Itu diputar di tebing, di pinggir pantai. Setelah sunset diputar. Nah terus ini kali kedua dan ternyata kesan magisnya sama,” kata Wregas.
Menurutnya, pemutaran film di ruang terbuka memberikan pengalaman tersendiri karena suara dan atmosfer film tidak terasa terkungkung dalam ruangan bioskop.
“Suara itu tidak terkungkung di dalam ruang bioskop tapi malah keluar. Nah, itulah yang saya rasa magis,” ujarnya.
Dalam pembukaan tersebut, penonton juga disuguhkan pertunjukan tari kontemporer sebelum menikmati pemutaran film. Siska menilai rangkaian pertunjukan tersebut berhasil membangun suasana sekaligus membuat penonton terlibat hingga akhir acara.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, S.Sos., M.M., mengatakan penyelenggaraan Kotabaru Heritage Film Festival 2026 menjadi bagian dari upaya memeriahkan HUT ke-270 Kota Yogyakarta.
Menurutnya, pelaksanaan festival mengusung semangat “Otentik, Konkret” yang dimaknai sebagai komitmen menghadirkan karya dan pengalaman budaya yang berangkat dari identitas lokal, nyata, dan relevan dengan masyarakat.
“Pelaksanaan kegiatan ini mengusung semangat otentik, konkret, yang dimaknai sebagai komitmen untuk menghadirkan karya dan pengalaman budaya berakar pada identitas lokal, nyata, relevan, serta mampu memperkuat kecintaan masyarakat terhadap Kota Yogyakarta,” ujar Yetti.
Yetti menambahkan, keberadaan festival film menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan karya sinema dengan kekayaan budaya lokal. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat menikmati karya film sekaligus mendapatkan pengalaman budaya dalam ruang publik.
Apresiasi terhadap penyelenggaraan Kotabaru Heritage Film Festival 2026 juga disampaikan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Hermawan. Ia menilai konsep pembukaan festival di Pasar Terban memberikan pengalaman yang unik, terutama melalui pemutaran film dengan konsep drive-in menggunakan becak.
“Hari ini kami hadir di pembukaan acara Kotabaru Heritage Film Festival. Cukup sangat unik, jadi pembukaannya di Pasar Terban dan juga ada acara nonton bareng dengan konsep drive-in pakai becak,” ujar Wawan.
Wawan menyebut penyelenggaraan festival tersebut menunjukkan kreativitas para pelaku seni dan industri film dalam menghadirkan kegiatan yang dekat dengan masyarakat.
Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan Kotabaru Heritage Film Festival yang memasuki tahun keempat. Menurutnya, peningkatan jumlah karya yang masuk menjadi salah satu indikator tingginya antusiasme insan perfilman terhadap festival tersebut.
“Ini luar biasa kerjaan teman-teman kreatif. Dan acara ini kami apresiasi karena acara yang keempat. Setiap tahun peserta untuk festival film meningkat terus. Lebih dari 180 film masuk untuk diikutkan dalam festival,” katanya.
Wawan berharap penyelenggaraan Kotabaru Heritage Film Festival dapat semakin mendorong insan film Indonesia, khususnya generasi muda, untuk terus berkarya dan menghasilkan karya film yang berkualitas.
“Harapan kami insan film Indonesia, khususnya anak-anak muda, lebih bersemangat menghasilkan karya-karya yang luar biasa,” ujarnya.
Pembukaan Kotabaru Heritage Film Festival 2026 di Pasar Terban menjadi penanda dimulainya rangkaian festival yang mempertemukan film, ruang publik, seni, dan warisan budaya. Melalui pendekatan tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta bersama penyelenggara mendorong agar warisan budaya tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang bersifat masa lalu, tetapi tetap hadir, dialami, dan dimaknai dalam kehidupan masyarakat masa kini. (Aga)














