Menurut Fadli, kondisi ekosistem alam di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Kunci–Palasari relatif terjaga dengan baik. Sejumlah pohon langka dan endemik lokal masih tumbuh, bahkan sebagian di antaranya pernah dijadikan memorial plant, sebuah gagasan yang dinilainya selaras dengan upaya pelestarian kawasan.
“Pohon-pohonnya langka, tetapi tetap merupakan bagian dari ekosistem lokal. Harapannya, kawasan cagar budaya seperti ini bisa kita dorong menjadi cagar budaya nasional,” ujar Fadli dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Pernyataan tersebut disampaikan Fadli saat meninjau langsung Situs Tahura Gunung Kunci–Palasari di Sumedang. Kunjungan itu menjadi bagian dari komitmen Kementerian Kebudayaan untuk melindungi dan mengembangkan peninggalan sejarah, khususnya di wilayah Jawa Barat.
Dalam peninjauan itu, Fadli menegaskan Benteng Gunung Kunci merupakan bukti penting sejarah militer kolonial Belanda. Benteng yang dibangun pada 1917 tersebut memiliki struktur relatif lengkap dan kompleks, mencakup fungsi pemantauan, logistik, hingga perkantoran.
“Benteng Gunung Kunci dan Benteng Palasari kemungkinan merupakan satu rangkaian pertahanan yang dibangun pada masa yang sama, yakni periode Perang Dunia Pertama,” katanya.
Rangkaian kunjungan dilanjutkan ke Benteng Palasari. Fadli menyebut situs tersebut sarat dengan narasi sejarah dan nilai historis. Berdasarkan proses identifikasi awal, terdapat sekitar delapan benteng di kawasan itu yang diperkirakan dibangun pada awal abad ke-20.
“Taman Hutan Raya Palasari merupakan lokasi cagar budaya Benteng Palasari. Jika ditempatkan dalam konteks sejarahnya, benteng ini sangat mungkin dibangun pada masa Perang Dunia Pertama,” ujarnya.
Namun demikian, Fadli menekankan perlunya kajian dan riset mendalam untuk mengungkap fungsi, proses pembangunan, serta peristiwa yang terkait dengan Benteng Palasari. Riset tersebut diharapkan melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Sumedang, hingga komunitas dan masyarakat setempat.
“Strukturnya cukup kuat, dengan sejumlah ruang yang kemungkinan memiliki fungsi beragam. Semua itu perlu diteliti secara serius,” katanya.
Fadli menegaskan, situs sejarah seperti Benteng Gunung Kunci dan Benteng Palasari merupakan aset budaya yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan publik. Ia berharap kedua benteng itu dapat berkembang sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah dengan narasi yang kuat, tanpa mengabaikan pelestarian ekosistem sekitarnya.
Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyatakan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian kedua benteng tersebut. Pemerintah daerah, kata dia, siap merawat dan mengembangkan kawasan itu sebagai sarana edukasi dan wisata sejarah bagi masyarakat.
Tahura Gunung Kunci–Palasari merupakan kawasan konservasi yang sekaligus menyimpan peninggalan militer kolonial Belanda. Benteng Gunung Kunci diketahui pernah berfungsi sebagai penjara dan gudang amunisi, sedangkan Benteng Palasari berperan sebagai benteng pengintai strategis. Kini, keduanya menjadi bagian dari destinasi wisata edukasi sejarah dan budaya di Sumedang.














