Membunyikan Leher Memang Enak, Tapi Berisiko Cedera hingga Stroke

Jumat, 16 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi - Leher tegang dan kaku (jennus)

Ilustrasi - Leher tegang dan kaku (jennus)

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta – Membunyikan leher kerap menjadi kebiasaan sebagian orang untuk meredakan rasa kaku atau melampiaskan stres. Namun, di balik sensasi lega yang muncul seketika, terdapat potensi risiko jangka panjang, mulai dari cedera leher hingga, dalam kasus tertentu, memicu stroke.

Dokter spesialis anestesiologi dan pengobatan nyeri intervensional, Dr. Kunal Sood, MD, menjelaskan bahwa bunyi letupan saat leher diputar bukanlah sumber bahaya utama. “Rasa lega sementara berasal dari peregangan sendi yang cepat serta pelepasan gelembung gas di cairan sinovial. Suara itu sendiri tidak berbahaya,” ujarnya, seperti dikutip Hindustan Times, Rabu (15/1).

Risiko justru muncul ketika leher berulang kali dipaksa melampaui rentang gerak alaminya. Menurut Sood, kebiasaan ini dalam jangka panjang dapat melonggarkan ligamen dan mengurangi stabilitas tulang belakang leher. Akibatnya, gerakan leher menjadi lebih tidak terkontrol, terutama saat terjadi putaran mendadak.

Penurunan stabilitas tersebut membuat struktur penting di area leher lebih rentan. “Gerakan yang tajam atau kuat dapat menimbulkan tekanan geser abnormal pada arteri vertebralis dan karotis yang melintas di leher,” kata Sood. Pada situasi yang jarang, tekanan ini dapat menyebabkan robekan pada lapisan dalam arteri—dikenal sebagai diseksi arteri serviks—yang berpotensi membentuk gumpalan darah dan menyumbat aliran darah ke otak, sehingga memicu stroke.

Meski demikian, Sood menegaskan bahwa sebagian besar orang yang membunyikan leher tidak akan mengalami komplikasi tersebut. “Namun mekanisme risikonya telah terdokumentasi dengan baik. Karena itu, manipulasi leher yang berulang dan kuat—terutama dilakukan sendiri—tidak disarankan,” ujarnya.

Sebagai alternatif yang lebih aman, Sood menyarankan latihan mobilitas ringan, perbaikan postur, penguatan otot yang terarah, serta terapi sesuai kebutuhan untuk mengatasi kekakuan leher, ketimbang membunyikan leher secara agresif. Langkah-langkah ini dinilai lebih efektif menjaga kesehatan leher tanpa menambah risiko cedera. (ihd)

Berita Terkait

Kebiasaan Makan Gorengan Saat Berbuka Picu Risiko Hati hingga Jantung
Tidur Larut Malam Dinilai Menghambat Penurunan Berat Badan
Pramono Memulai Satu Tahun Lalu, Ajak Warga Jakarta Beralih Total ke Angkutan Umum
Menbud Dorong Benteng Gunung Kunci-Palasari Jadi Cagar Budaya Nasional
Srikandi, Inovasi Alumni MAN IC Serpong untuk Memilah Sampah Secara Otomatis
Pasca Libur Panjang, Jalan Santai Tak Cukup Kembalikan Kebugaran
Golf Tak Kena Pajak Hiburan Seperti Olahraga Lain, Gubernur Anung Beri Alasan
Hidup Sudah Susah, Jauhi 9 Hal Ini Kalau Tak Ingin Tambah Susah

Berita Terkait

Minggu, 22 Februari 2026 - 12:56 WIB

Kebiasaan Makan Gorengan Saat Berbuka Picu Risiko Hati hingga Jantung

Senin, 16 Februari 2026 - 18:21 WIB

Tidur Larut Malam Dinilai Menghambat Penurunan Berat Badan

Kamis, 22 Januari 2026 - 19:38 WIB

Pramono Memulai Satu Tahun Lalu, Ajak Warga Jakarta Beralih Total ke Angkutan Umum

Sabtu, 17 Januari 2026 - 21:57 WIB

Menbud Dorong Benteng Gunung Kunci-Palasari Jadi Cagar Budaya Nasional

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:07 WIB

Membunyikan Leher Memang Enak, Tapi Berisiko Cedera hingga Stroke

Berita Terbaru