Kasus Bupati Lampung Tengah Tunjukkan Rapuhnya Rekrutmen Parpol

Minggu, 14 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Lampung Tengah periode 2025-2030 Ardito Wijaya (kiri), adik Bupati Ranu Hari Prasetyo (kedua kiri), dan Plt. Kepala Badan Pendapatan Daerah Anton Wibowo (kedua kanan) berjalan menuju ruang konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (11/12/2025). (Antara Foto)

Bupati Lampung Tengah periode 2025-2030 Ardito Wijaya (kiri), adik Bupati Ranu Hari Prasetyo (kedua kiri), dan Plt. Kepala Badan Pendapatan Daerah Anton Wibowo (kedua kanan) berjalan menuju ruang konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (11/12/2025). (Antara Foto)

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Kasus dugaan korupsi yang menjerat Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya kembali membuka persoalan mendasar dalam tata kelola politik nasional. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai perkara ini mencerminkan lemahnya sistem rekrutmen dan kaderisasi partai politik.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo, Minggu (14/12/2025), menyebut integrasi rekrutmen dengan kaderisasi parpol masih rapuh. Kondisi tersebut memicu praktik mahar politik, tingginya mobilitas kader lintas partai, serta kandidasi yang lebih ditentukan oleh kekuatan finansial dan popularitas ketimbang rekam jejak dan kapasitas.

KPK juga menyoroti dugaan penggunaan dana Rp5,25 miliar oleh Ardito Wijaya untuk melunasi pinjaman bank yang dipakai membiayai kampanye Pilkada 2024. Fakta ini, menurut Budi, menegaskan masih mahalnya ongkos politik di Indonesia. Beban pengembalian modal politik yang besar kerap mendorong kepala daerah terpilih menempuh jalan pintas, termasuk praktik korupsi.

Kasus ini, lanjut Budi, menguatkan temuan awal kajian KPK tentang tata kelola partai politik. Salah satu hipotesis yang diuji adalah tingginya kebutuhan dana parpol, baik untuk pemenangan pemilu, operasional harian, maupun pembiayaan agenda internal seperti kongres dan musyawarah partai. Di sisi lain, lemahnya akuntabilitas dan transparansi laporan keuangan parpol membuka celah masuknya aliran dana tidak sah.

Karena itu, KPK mendorong standardisasi sistem pelaporan keuangan partai politik agar lebih terbuka dan dapat diawasi publik, sebagai bagian dari upaya pencegahan korupsi. Meski demikian, kajian tersebut masih dalam tahap pematangan sebelum disampaikan kepada para pemangku kepentingan.

Sebelumnya, pada 11 Desember 2025, KPK menetapkan Ardito Wijaya sebagai salah satu dari lima tersangka dalam perkara dugaan penerimaan hadiah atau janji terkait pengadaan barang dan jasa serta penerimaan lainnya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah tahun anggaran 2025. Dalam perkara itu, KPK menduga Ardito menerima Rp5,75 miliar, dengan Rp5,25 miliar di antaranya digunakan untuk melunasi pinjaman bank demi kebutuhan kampanye Pilkada 2024. (ihd)

Berita Terkait

3.972 Personel Amankan Lebaran di Banten, Polda Dirikan 57 Pos Pengamanan dan Layanan
KPK Periksa Pengacara dalam Kasus Suap Hakim PN Depok Terkait Eksekusi Lahan
Rp58,1 Miliar Aset Judi Online Diserahkan Polisi ke Negara, 16 Perkara Telah Inkrah
Polisi Selidiki Kecelakaan Moge di Temon, Penumpang Tewas
Kasus Ekspor CPO Berlanjut, Kejagung Geledah Puluhan Lokasi di Riau dan Medan
Tabrakan Dua Motor di Depan MTs Lambangsari, Satu Remaja Luka Serius
Ditembak Karena Melawan, Koko Erwin Terkulai Digotong ke Bareskrim
Pakar Hukum Minta Publik Disiplin Baca Naskah Kerja Sama RI–AS

Berita Terkait

Jumat, 6 Maret 2026 - 17:24 WIB

3.972 Personel Amankan Lebaran di Banten, Polda Dirikan 57 Pos Pengamanan dan Layanan

Kamis, 5 Maret 2026 - 16:16 WIB

KPK Periksa Pengacara dalam Kasus Suap Hakim PN Depok Terkait Eksekusi Lahan

Kamis, 5 Maret 2026 - 14:37 WIB

Rp58,1 Miliar Aset Judi Online Diserahkan Polisi ke Negara, 16 Perkara Telah Inkrah

Senin, 2 Maret 2026 - 20:47 WIB

Polisi Selidiki Kecelakaan Moge di Temon, Penumpang Tewas

Senin, 2 Maret 2026 - 17:40 WIB

Kasus Ekspor CPO Berlanjut, Kejagung Geledah Puluhan Lokasi di Riau dan Medan

Berita Terbaru