JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta – Tragedi penculikan Kepala Cabang Pembantu sebuah bank BUMN berawal dari rencana manipulasi rekening tak aktif. Korban diseret dari parkiran supermarket hingga berakhir di tengah sawah Bekasi.
Pagi 21 Agustus 2025, suasana sawah di Desa Nagasari, Serang Baru, Kabupaten Bekasi, masih berkabut tipis. Seorang penggembala sapi yang melintas kaget melihat tubuh tergeletak di pematang. Tangannya terikat, kakinya dililit, mulut dan matanya dilakban, tubuh penuh lebam. Namanya belakangan terungkap: Mohamad Ilham Pradipta (37), Kepala Cabang Pembantu sebuah bank BUMN di Cempaka Putih.
Mayat itu menutup kisah panjang yang dimulai dua bulan sebelumnya.
Awal Mula
Juni 2025, Candy alias Ken, pria yang punya akses data rekening dormant di sejumlah bank, merancang skema licik. Ia ingin memindahkan dana-dana tak bertuan itu ke rekening penampungan. Masalahnya, sistem perbankan tetap mensyaratkan otorisasi kepala cabang.
Candy lalu menghubungi Dwi Hartono. Dari pertemuan-pertemuan awal muncul ide gila: mencari kepala cabang yang bisa “diajak kerja sama.” Bila gagal, mereka akan menekan dengan ancaman. Dalam rapat 30 Juli bersama AAM, nama Ilham muncul ke meja. “Kartu namanya sudah di tangan,” kata penyidik.
Candy menimbang dua opsi: menekan lalu melepas, atau menekan lalu menghabisi.
Lingkaran Membesar
Akhir Juli hingga awal Agustus, rapat berpindah ke kafe-kafe di sekitar Kota Wisata, Cibubur. Dwi Hartono mendatangkan JP untuk mencarikan “jasa preman”. Dari pintu itulah nama-nama baru masuk: Serka N dan Kopda FH, prajurit Kopassus TNI AD.
Rencana makin matang. Ada tim yang membuntuti, tim yang menyiapkan safe house, tim yang mengeksekusi. Foto Ilham beredar di grup kecil mereka. Tanggal 18 Agustus, pertemuan terakhir di sebuah kafe menyimpulkan pembagian tugas. Target sudah ditetapkan.
Hari Penculikan
20 Agustus sore, Avanza putih menunggu di parkiran sebuah supermarket di Pasar Rebo. Saat Ilham keluar, enam orang langsung menyeretnya masuk ke mobil. Ia meronta, berteriak, tapi mulutnya cepat dibungkam lakban.
Di Avanza, pemukulan dimulai. “Korban melawan, sehingga dipukuli sampai lemas,” kata AKBP Abdul Rahim, Kasubdit Jatanras. Malamnya, ia dipindahkan ke Fortuner hitam di Kemayoran. Di dalam mobil itulah penganiayaan berlanjut. Tubuhnya semakin tak berdaya.
Masalah muncul: safe house yang disiapkan ternyata sudah disewa orang lain. Ilham makin sekarat. Tim penculik panik.
Akhir Tragis
Malam itu juga, korban dibawa ke arah Cikarang. Dalam kondisi masih hidup tapi nyaris tak bernapas, ia diturunkan di pinggiran sawah. Tangannya tetap terikat, mulut dan matanya dilakban. “Menurut pengakuan tersangka, saat ditinggal masih bergerak,” kata Abdul.
Keesokan paginya, tubuh itu ditemukan penggembala sapi. Polisi bergerak cepat. Rangkaian pertemuan, telepon, dan peran tiap aktor disusun ulang. Lima belas tersangka ditetapkan.
Motif yang Terputus
Dana rekening dormant yang jadi alasan awal tak pernah berpindah. Operasi berhenti di tengah jalan, terpotong oleh kematian Ilham.
Polisi hanya menjerat para tersangka dengan pasal penculikan. “Niat awalnya menculik, bukan membunuh,” ujar Kombes Wira Satya Triputra dalam konferensi pers Polda Metro Jaya, Selasa (16/9/2025) sore.
Namun, di balik pernyataan dingin itu, fakta di lapangan berkata lain: satu kepala cabang bank menjadi korban perebutan uang maya, tubuhnya membusuk di persawahan. (ihd)














