JENDELANUSANTARA.COM, Beijing — Pepatah “carilah ilmu hingga ke negeri Cina” seolah menemukan bentuk paling harfiahnya dalam langkah para kepala desa dari Indonesia. Sejak 2019, rombongan kades bergiliran bertolak ke China untuk mempelajari pembangunan pedesaan. Tahun ini, program memasuki sesi kelima, menandai konsistensi kerja sama antarkedua negara dalam memperkuat kapasitas pemimpin desa.
Sebanyak 26 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti rangkaian pelatihan di sejumlah kota di Provinsi Shandong, China bagian timur. Mereka meninjau langsung model pengembangan industri pertanian modern, pusat pelatihan keterampilan, sistem pendidikan pedesaan, serta pembangunan infrastruktur lokal.
Program Pelatihan Kader Pedesaan Indonesia ini merupakan kolaborasi antara Kedutaan Besar China di Indonesia dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI. Setiap tahun, 20–30 kepala desa dipilih untuk mengikuti pelatihan intensif selama beberapa hari di China. Hingga 2024, empat sesi sebelumnya telah melibatkan lebih dari 100 kades.
Salah satu alumnus, Hendrik Dwi Martono, Kepala Desa Purwosono, menuturkan sejumlah praktik yang dipelajari di China telah ia terapkan di tingkat desa, mulai dari penguatan administrasi hingga perbaikan layanan publik berbasis data.
Pada kunjungan terbaru, para peserta meninjau taman agrikultur berteknologi tinggi di Kota Shouguang, pusat hortikultura di Shandong. Lokasi itu menjadi contoh bagaimana teknologi sensor, rumah kaca modern, dan sistem irigasi cerdas dapat meningkatkan produktivitas tanpa memperluas lahan.
Dengan program yang terus berjalan, hubungan Indonesia–China dalam bidang pembangunan pedesaan tampak semakin erat. Para kades kembali ke tanah air dengan membawa gagasan baru—sebuah ikhtiar belajar lintas negara yang kini memasuki tahun ketujuh pelaksanaannya.














