JENDELANUSANTARA.COM, Venezuela — Sedikitnya 40 orang, termasuk personel militer dan warga sipil, dilaporkan tewas dalam serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela, Sabtu (3/1/2025). Laporan itu disampaikan New York Times dengan mengutip keterangan pejabat senior Venezuela.
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez sebelumnya menyatakan bahwa serangan AS telah menewaskan sejumlah pejabat, anggota militer, serta warga sipil. Namun, pemerintah Venezuela belum merinci lokasi maupun sasaran utama serangan tersebut.
Presiden AS Donald Trump pada hari yang sama mengumumkan bahwa Washington telah melancarkan operasi militer besar-besaran ke Venezuela. Trump juga mengklaim Presiden Venezuela Nicolás Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri.
Media-media setempat di Venezuela melaporkan terjadinya sejumlah ledakan di Caracas. Beberapa laporan menyebut operasi itu melibatkan unit elite militer AS, Delta Force, meski klaim tersebut belum dikonfirmasi secara independen.
Pemerintah Venezuela menyatakan belum mengetahui keberadaan Maduro dan meminta AS memberikan bukti bahwa presiden mereka masih hidup. Menanggapi hal itu, Trump kemudian menerbitkan sebuah foto yang diklaim memperlihatkan Maduro berada di atas kapal militer AS.
Di AS, sejumlah anggota Kongres menilai operasi militer tersebut ilegal dan melanggar hukum internasional. Pemerintah AS, sebaliknya, menyatakan Maduro akan dibawa ke hadapan pengadilan untuk mempertanggungjawabkan tindakannya.
Kementerian Luar Negeri Venezuela mengumumkan rencana untuk mengajukan banding ke berbagai organisasi internasional atas tindakan Washington. Caracas juga mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar rapat darurat guna membahas serangan AS tersebut.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritasnya kepada rakyat Venezuela. Moskow mengaku prihatin atas laporan yang menyebut Maduro dan istrinya dipaksa meninggalkan negara mereka sebagai bagian dari apa yang disebut Rusia sebagai agresi AS.
Pemerintah Rusia menyerukan pembebasan Maduro dan Cilia Flores serta mendesak semua pihak mencegah eskalasi lebih lanjut di kawasan Amerika Latin. (ihd)











