JENDELANUSANTARA.COM, Ankara — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah terjadi diskusi “intens” antara Washington dan Teheran di tengah eskalasi konflik kawasan. Namun, klaim tersebut segera dibantah otoritas Iran yang menegaskan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung.
Dalam wawancara telepon yang dikutip media AS, Trump menyebut situasi di Iran dapat digambarkan sebagai “perubahan rezim”. Laporan CNBC menyebutkan pernyataan itu disampaikan seiring isyarat adanya langkah baru dalam upaya meredakan konflik yang telah berlangsung sekitar tiga pekan.
Meski demikian, detail mengenai pembicaraan yang diklaim tersebut belum jelas, termasuk pihak yang terlibat maupun lokasi pertemuan. Pemerintah Iran secara tegas menolak pernyataan tersebut dan menegaskan tidak ada proses diplomasi yang berjalan dengan Amerika Serikat.
Trump juga menyatakan Washington “sangat bertekad” mencapai kesepakatan dengan Iran dan berharap pembicaraan dapat menghasilkan langkah substantif. Pernyataan itu muncul tak lama setelah ia mengumumkan melalui platform Truth Social mengenai instruksi penghentian sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari, guna membuka peluang diplomasi.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan pesawat nirawak dan rudal ke sejumlah target, termasuk wilayah Israel serta negara-negara seperti Yordania, Irak, dan kawasan Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan balasan ini memicu korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan terhadap pasar global dan penerbangan internasional. (ihd)














