Sekjen PBB: Hentikan Operasi Militer AS-Israel ke Iran sebelum Lepas Kendali dan Sengsarakan Dunia

Jumat, 20 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres. (VOV World)

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres. (VOV World)

JENDELANUSANTARA.COM, Markas PBB — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyerukan penghentian segera operasi militer oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Seruan itu disampaikan Kamis, menyusul meningkatnya eskalasi konflik yang dinilai berisiko lepas kendali dan memicu dampak kemanusiaan serta ekonomi global.

Dalam pernyataannya di sela Konferensi Tingkat Tinggi pemimpin Uni Eropa, Guterres menegaskan pentingnya mengedepankan hukum internasional dan jalur diplomasi. “Sudah saatnya supremasi hukum mengalahkan hukum kekuatan. Sudah saatnya diplomasi mengalahkan perang,” ujarnya.

Selain mendesak penghentian operasi militer, Guterres juga meminta Iran membuka kembali Selat Hormuz yang kini terganggu akibat konflik. Ia mengingatkan bahwa penutupan jalur vital tersebut berpotensi menimbulkan penderitaan luas, termasuk bagi negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik.

Guterres turut meminta Teheran menahan diri dan menghentikan serangan balasan terhadap negara-negara di kawasan Teluk. Menurut dia, negara-negara tersebut tidak menjadi pihak dalam konflik yang tengah berlangsung.

“Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz akan berdampak pada banyak orang di seluruh dunia yang tidak ada kaitannya dengan konflik ini,” kata Guterres.

Eskalasi konflik meningkat sejak serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan yang berlanjut telah menyebabkan gangguan serius terhadap lalu lintas di Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar global. Kondisi ini berdampak langsung pada produksi dan ekspor energi dunia, serta memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi internasional.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pidatonya pada 12 Maret menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup. Ia menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari strategi tekanan dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel. (Sputnik/Ria Novosti/Oana)

Berita Terkait

Iran Bantah Berunding dengan AS, Gandeng Oman Buka Jalur Aman di Selat Hormuz
Serangan Israel Berlanjut, Delapan Warga Gaza Tewas di Tengah Kesepakatan Gencatan Senjata
AS Dituding Langgar Kesepahaman, Iran Bantah Ada Perundingan dengan Washington
Delegasi Indonesia, UMJ Press dan APPTIMA Hadiri International Publishers Congress 2026 di Kuala Lumpur
Jerman Undang Tenaga Kerja Indonesia untuk Berkarier, Belajar, dan Menetap
UMY Perkokoh Reputasi Internasional dengan Menjalin Kemitraan Strategis di Laos
Jelang Pemakaman Khamenei, Militer Iran Peringatkan AS dan Israel agar Tak Picu Eskalasi
IRGC Klaim Serang Basis Militer AS di Kuwait dan Bahrain, Diplomasi Iran-AS Kembali Teruji

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 17:02 WIB

Iran Bantah Berunding dengan AS, Gandeng Oman Buka Jalur Aman di Selat Hormuz

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:19 WIB

Serangan Israel Berlanjut, Delapan Warga Gaza Tewas di Tengah Kesepakatan Gencatan Senjata

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:17 WIB

AS Dituding Langgar Kesepahaman, Iran Bantah Ada Perundingan dengan Washington

Minggu, 5 Juli 2026 - 07:13 WIB

Delegasi Indonesia, UMJ Press dan APPTIMA Hadiri International Publishers Congress 2026 di Kuala Lumpur

Sabtu, 4 Juli 2026 - 08:58 WIB

Jerman Undang Tenaga Kerja Indonesia untuk Berkarier, Belajar, dan Menetap

Berita Terbaru