Viral Video Nadiem Masuk DPO, Ini Penjelasan Kejagung

Senin, 2 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Kejaksaan Agung menegaskan bahwa mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, tidak termasuk dalam daftar pencarian orang (DPO) terkait penyidikan dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek periode 2019–2022.

Penegasan ini disampaikan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Harli Siregar, merespons beredarnya video di media sosial yang menarasikan bahwa Kejagung telah menetapkan Nadiem sebagai buronan. Video tersebut bahkan menampilkan adegan penggeledahan sebuah apartemen yang diklaim sebagai milik Nadiem.

“Kami tidak pernah menyatakan bahwa Saudara Nadiem Makarim masuk dalam DPO. Itu tidak benar,” ujar Harli di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (2/6/2025).

Ia juga membantah bahwa penyidik pernah melakukan penggeledahan di apartemen yang disebut milik mantan menteri tersebut. Menurut Harli, video yang beredar sebenarnya memperlihatkan penggeledahan terhadap apartemen milik mantan staf khusus Nadiem, berinisial FH.

Video yang dimaksud telah beredar luas di media sosial dan ditonton ratusan ribu kali. Hingga Senin, video tersebut mencatat 214.000 tanda suka dan 5.556 komentar. Narasi dalam video menyebutkan bahwa Nadiem diduga terlibat dalam korupsi pengadaan laptop senilai hampir Rp10 triliun dan menghilang ketika hendak ditangkap.

Sedang Disidik

Meski membantah keterlibatan Nadiem, Kejagung memastikan bahwa penyidikan atas kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook terus berjalan. Kasus ini ditangani oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus).

Menurut Harli, penyidik tengah mendalami dugaan pemufakatan jahat sejumlah pihak yang mengarahkan tim teknis untuk mengubah kajian teknis demi memenangkan perangkat berbasis sistem operasi Chrome.

“Padahal, pada 2019 sudah dilakukan uji coba 1.000 unit Chromebook oleh Pustekkom, dan hasilnya dinilai tidak efektif,” ujar Harli.

Kajian awal sebenarnya merekomendasikan penggunaan perangkat berbasis sistem operasi Windows. Namun, rekomendasi itu kemudian diganti dengan kajian baru yang menyarankan penggunaan Chromebook.

Dari sisi anggaran, proyek pengadaan perangkat tersebut menghabiskan dana negara sebesar Rp9,982 triliun. Hingga kini, Kejagung belum mengungkap pihak-pihak yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara ini. (ihd)

Berita Terkait

Praperadilan Kedua Dokter Tifa Dipersoalkan, Kubu Jokowi Soroti Konsistensi Sikap
72 Orang Jadi Tersangka Karhutla, Polri Telusuri Keterlibatan Korporasi
Sindikat Uang Palsu Rp36 Miliar Incar Bank Swasta untuk Edarkan Hasil Produksi
KPK Ungkap 73 Kursi Kedokteran Unsoed Diduga Diatur, Uang Masuk Capai Rp650 Juta
OTT Ke-19 KPK, Rektor dan Dua Wakil Rektor Unsoed Ditangkap
Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penggelapan Investasi
Febrie Bantah Minta Penyidik Kembalikan Emas 74 Kg yang Disita dari Rumahnya
Eks Dirut PGN Divonis Empat Tahun karena Korupsi Jual Beli Gas

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:46 WIB

Praperadilan Kedua Dokter Tifa Dipersoalkan, Kubu Jokowi Soroti Konsistensi Sikap

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:11 WIB

72 Orang Jadi Tersangka Karhutla, Polri Telusuri Keterlibatan Korporasi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:54 WIB

Sindikat Uang Palsu Rp36 Miliar Incar Bank Swasta untuk Edarkan Hasil Produksi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 13:20 WIB

KPK Ungkap 73 Kursi Kedokteran Unsoed Diduga Diatur, Uang Masuk Capai Rp650 Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 - 08:43 WIB

OTT Ke-19 KPK, Rektor dan Dua Wakil Rektor Unsoed Ditangkap

Berita Terbaru