JENDELANUSANTARA.COM, YOGYAKARTA — Sutradara film Para Perasuk, Wregas Bhanuteja, memberikan sedikit bocoran mengenai proyek film yang tengah dipersiapkannya. Berbeda dengan Para Perasuk yang lekat dengan kehidupan masyarakat desa dan pengalaman kerasukan, karya berikutnya akan mengambil pendekatan drama dengan tema kedukaan.
Wregas mengungkapkan proyek film terbarunya akan berfokus pada pengalaman seseorang yang sedang menghadapi duka. Meski demikian, ia belum bersedia mengungkapkan judul maupun detail cerita film tersebut.
“Film berikutnya itu tentang drama. Tapi berkaitan dengan kedukaan. Jadi tentang seseorang yang berduka. Tapi judulnya masih rahasia,” ungkap Wregas saat dikonfirmasi wartawan dalam gelaran Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) di Pasar Terban, Yogyakarta, Kamis (17/9/2026).
Menurut Wregas, film tersebut juga akan memiliki latar yang berbeda dari Para Perasuk. Jika film terbarunya yang saat ini diperbincangkan banyak mengambil keterkaitan dengan kehidupan masyarakat desa dan tradisi, proyek berikutnya akan membawa cerita ke lingkungan perkotaan.
“Ini lebih setting-nya di kota. Terus kemudian mengeksplorasi tentang kedukaan yang dialami karakter itu,” jelasnya.
Wregas memastikan proyek tersebut tidak secara khusus mengangkat tradisi tertentu seperti jatilan maupun tradisi budaya lainnya. Fokus cerita justru diarahkan pada pengalaman emosional karakter dalam menghadapi kedukaan.
Namun, untuk saat ini Wregas masih merahasiakan berbagai detail mengenai film tersebut. Ia belum mengungkap siapa saja yang akan terlibat maupun kapan proyek tersebut akan diproduksi dan dirilis.
Di tengah pembicaraan mengenai karya berikutnya, Wregas juga menyampaikan pandangannya mengenai proses kreatif seorang sineas.
Menurutnya, tidak ada batasan usia maupun formula tertentu bagi seseorang untuk mulai membuat film. Ia justru mendorong sineas muda untuk berani membuat karya yang memang mereka sukai.
“Saya berpikir mungkin teman-teman lakukan atau buatlah yang teman-teman suka. Dalam artian kalau teman-teman menyukainya dan ketika membuat itu ya nyaman, tidak tertekan,” tuturnya.
Wregas menilai kebebasan dalam menjalani proses kreatif dapat membantu seorang pembuat film mengenali dirinya sendiri. Dari proses tersebut, seorang sineas dapat menemukan bahasa dan gaya sinematik yang sesuai dengan pengalaman maupun karakter masing-masing.
Ia juga menilai gaya penyutradaraan seseorang tidak harus selalu sama sepanjang perjalanan kariernya.
Pengalaman hidup, usia, serta pertemuan dengan berbagai peristiwa baru dapat membuat cara seorang sineas bercerita ikut berubah.
“Film itu proses yang tiada akhir, masing-masing memiliki prosesnya sendiri-sendiri,” kata Wregas.
Sutradara kelahiran Yogyakarta tersebut menyadari bahwa bahasa film yang digunakannya saat ini belum tentu akan sama dengan karya-karyanya di masa mendatang.
“Karena pengalaman diri saya yang baru, bertemu dengan peristiwa baru. Mungkin sampai akhir hayat juga akan berganti,” ujarnya.
Wregas juga menyinggung soal subjektivitas dalam menikmati sebuah karya film. Menurutnya, sebuah film tidak bisa hanya dilihat berdasarkan satu ukuran mengenai benar atau salah.
Setiap penonton memiliki latar belakang, pengalaman, serta selera masing-masing yang dapat memengaruhi cara mereka menikmati dan menafsirkan sebuah film.
“Tidak ada yang benar atau yang salah di dalam film. Karena film itu adalah karya yang kemudian penontonnya memiliki selera masing-masing. Sangat subjektif,” pungkasnya.
Karena itu, Wregas kembali mengajak sineas muda untuk tidak terlalu terbebani dengan keharusan mengikuti formula tertentu ketika mulai berkarya.
“Jadi saya mengusulkan untuk membuat karya yang sesuai dengan yang teman-teman suka,” ujarnya. (Aga)














