JENDELANUSANTARA.COM, Yogyakarta – Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Tim Civil Nexus berhasil meraih Gold Medal, Top 4 Special Award, dan Best Paper dalam ajang International Highest Early Strength Eco-Green Concrete Cube Competition (I-HESEGC) 2026 yang diselenggarakan di Politeknik Sultan Haji Ahmad Shah (POLISAS), Kuantan, Pahang, Malaysia.
Kompetisi internasional tersebut mempertemukan mahasiswa bidang teknik sipil untuk mengembangkan beton berkekuatan awal tinggi dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan. Berdasarkan informasi resmi penyelenggara, rangkaian I-HESEGC 2026 berlangsung pada 2–4 Agustus 2026 di POLISAS, Kuantan.
Tim Civil Nexus beranggotakan Dewa Tri Puja, Adimas Wahyu Ariadani, dan Ariska Vera Wibowo, yang seluruhnya merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UMY. Dalam mengikuti kompetisi tersebut, mereka mendapat pendampingan dari dosen pembimbing, Hakas Prayuda, S.T., M.Eng., Ph.D.
Ketua Tim Civil Nexus, Dewa Tri Puja, mengaku bersyukur sekaligus bangga atas capaian yang diraih. Menurutnya, tiga penghargaan tersebut menjadi buah dari kerja keras tim dalam mempersiapkan inovasi dalam waktu yang relatif singkat.
“Sangat senang dan bangga karena usaha yang kami lakukan sebagai tim dapat membuahkan hasil terbaik. Kami juga mampu bersaing dengan dua nominator lainnya, yaitu dari Politeknik Sultan Idris Shah dan Politeknik Sultan Abdul Halim Mu’adzam Shah, Malaysia,” ungkap Dewa saat diwawancarai secara daring, Rabu (12/8).
Persiapan Hanya Dua Bulan
Di balik pencapaian tersebut, Tim Civil Nexus hanya memiliki waktu sekitar dua bulan untuk melakukan penelitian sekaligus menyiapkan seluruh kebutuhan kompetisi.
Persiapan bahkan dilakukan ketika para anggota masih disibukkan dengan sejumlah kompetisi lain. Dewa saat itu tengah mengikuti babak final kompetisi beton tingkat nasional di Universitas Tarumanagara, sedangkan Adimas baru menyelesaikan kompetisi di Universiti Malaya. Seusai rangkaian kegiatan tersebut, tim langsung memanfaatkan waktu yang tersisa untuk melakukan penelitian dan mengembangkan inovasi beton.
“Kami memanfaatkan setiap hari yang tersedia. Bahkan, hari Minggu pun kami tetap berada di laboratorium,” tutur Dewa.
Tantangan semakin besar karena I-HESEGC menerapkan ketentuan teknis yang ketat. Peserta diwajibkan melakukan proses pencampuran beton secara manual tanpa bantuan mesin. Seluruh tahapan, mulai dari penimbangan material, pencampuran, hingga pencetakan beton, harus diselesaikan dalam waktu satu jam.
Beton yang dihasilkan kemudian diuji kuat tekannya ketika berusia sekitar 24 jam. Karakter kompetisi yang menekankan early strength tersebut membuat peserta harus mampu menghasilkan beton dengan kekuatan optimal dalam waktu pengerasan yang sangat singkat.
Kondisi itu menuntut Tim Civil Nexus memperhitungkan secara presisi komposisi material, desain campuran, proses pencampuran, serta efisiensi waktu pengerjaan.
Berburu Material di Tengah UAS
Menurut Dewa, salah satu tantangan terbesar selama penelitian adalah menemukan material yang paling sesuai dengan inovasi yang dikembangkan. Keterbatasan waktu membuat tim harus melakukan serangkaian percobaan terhadap berbagai komposisi material.
Pada saat yang sama, proses penelitian berlangsung beriringan dengan pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS). Tim juga harus menyelesaikan berbagai persyaratan kompetisi, mulai dari poster ilmiah, makalah, mix design, latihan presentasi, hingga persiapan teknis keberangkatan.
“Kami memiliki waktu yang sedikit, tetapi harus memenuhi banyak persyaratan kompetisi, mulai dari poster, paper, mix design, latihan presentasi, hingga berbagai kebutuhan lainnya,” jelasnya.
Persaingan dengan peserta internasional turut memberikan tekanan tersendiri. Dewa mengakui timnya sempat merasa khawatir karena peserta lain juga datang dengan persiapan yang matang.
“Tidak bisa dipungkiri, karena perlombaan ini bergengsi, peserta dari negara lain juga memiliki persiapan yang matang. Hal itu sempat membuat kami takut untuk maju. Namun, kami tidak menjadikannya alasan untuk berhenti, melainkan tantangan agar berani tampil di ajang internasional,” ujarnya.
Tiga Kepala, Satu Gagasan
Selain kemampuan teknis, kekompakan tim menjadi salah satu faktor penting di balik keberhasilan Civil Nexus. Tiga anggota dengan gagasan dan sudut pandang berbeda dituntut mampu membangun komunikasi agar dapat menghasilkan satu keputusan bersama.
“Kuncinya, sebisa mungkin kami meluruskan persoalan dan mencari jalan tengah ketika terjadi miskomunikasi karena kami menyatukan tiga kepala dalam satu gagasan,” kata Dewa.
Ia menambahkan, konsistensi dan evaluasi juga menjadi prinsip yang terus dijaga selama proses penelitian. Konsistensi dibutuhkan agar setiap tahapan pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target, sedangkan evaluasi menjadi sarana untuk menemukan dan memperbaiki kekurangan dari setiap percobaan.
Bagi tim, kegagalan dalam satu formulasi bukan menjadi akhir penelitian. Setiap hasil percobaan justru menjadi data untuk menentukan komposisi yang lebih tepat pada tahap berikutnya hingga diperoleh beton yang mampu memenuhi kriteria kompetisi.
Dukungan UMY Bantu Mahasiswa Fokus Berkompetisi
Keberhasilan Tim Civil Nexus juga tidak terlepas dari dukungan UMY dan Program Studi Teknik Sipil. Dewa mengatakan dukungan kampus telah diberikan sejak tim mendapat kesempatan mengikuti kompetisi hingga keberangkatan ke Malaysia.
Fasilitas laboratorium, kebutuhan penelitian, transportasi, hingga akomodasi selama kompetisi turut mendapat dukungan universitas. Menurutnya, fasilitas tersebut membuat mahasiswa dapat lebih fokus melakukan penelitian dan mempersiapkan kompetisi tanpa terlalu terbebani kebutuhan teknis lainnya.
“Kampus sangat mendukung mahasiswa. Kami diberikan fasilitas mulai dari kebutuhan laboratorium, keberangkatan, penginapan, dan berbagai kebutuhan lainnya sehingga dapat fokus pada perlombaan tanpa terlalu memikirkan kendala tersebut,” ungkap Dewa.
Dukungan itu dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem akademik yang mendorong mahasiswa tidak hanya memahami teori di ruang kuliah, tetapi juga mengembangkan inovasi, melakukan penelitian, dan menguji kemampuannya melalui kompetisi di tingkat internasional.
Raihan tiga penghargaan di Malaysia pun tidak ingin dijadikan titik akhir oleh Tim Civil Nexus. Dewa berharap capaian tersebut menjadi pijakan untuk terus mengembangkan penelitian dan kembali mengikuti kompetisi pada level yang lebih tinggi.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota tim, dosen pembimbing, Program Studi Teknik Sipil, serta UMY yang telah mendukung proses penelitian hingga kompetisi. (gla)
Sumber : Humas UMY














