JENDELANUSANTARA.COM, Teheran — Pemerintah Iran kembali memanfaatkan jalur diplomasi tidak langsung untuk meredakan ketegangan dengan Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, bertolak ke Islamabad, Pakistan, guna menyampaikan sejumlah syarat penghentian konflik kepada Washington melalui peran mediasi Islamabad.
Kantor berita semiresmi Tasnim News Agency, Minggu (26/4/2026), melaporkan bahwa kunjungan Araghchi kali ini tidak terkait dengan perundingan nuklir, melainkan fokus pada upaya mengakhiri perang yang memanas dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam agenda pembahasan, Araghchi disebut akan mengangkat sejumlah isu strategis, mulai dari hubungan bilateral Iran-Pakistan hingga tuntutan yang diajukan Teheran kepada Washington. Tuntutan tersebut mencakup kompensasi perang, jaminan tidak terulangnya agresi militer, serta pencabutan blokade Angkatan Laut AS di jalur vital energi dunia, Selat Hormuz.
Selain itu, Iran juga menyoroti penerapan sistem hukum baru di kawasan Selat Hormuz yang menjadi bagian dari strategi penguatan kendali atas jalur tersebut pascakonflik.
Araghchi tiba di Islamabad pada Minggu sore waktu setempat, menandai kunjungan keduanya dalam waktu singkat setelah sebelumnya melakukan lawatan ke Oman. Kunjungan ini disebut sebagai lanjutan konsultasi intensif dengan para pejabat Pakistan.
Pada kunjungan sebelumnya, Araghchi telah bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Asim Munir, guna membahas peran Islamabad sebagai mediator dalam konflik Iran-AS.
Setelah dari Pakistan, Araghchi dijadwalkan melanjutkan tur regional ke Rusia sebagai upaya memperkuat dukungan diplomatik.
Konflik Iran dan Amerika Serikat memuncak sejak serangan gabungan yang dilancarkan Israel dan AS pada 28 Februari 2026 ke Teheran dan sejumlah kota lain di Iran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat militer dan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke target-target Israel serta aset militer AS di kawasan Timur Tengah. Teheran juga memperketat kontrol atas Selat Hormuz dengan membatasi perlintasan kapal yang berafiliasi dengan Israel dan AS.
Upaya meredakan konflik sempat muncul melalui gencatan senjata pada 8 April 2026, yang kemudian diikuti perundingan Iran-AS di Islamabad pada 11–12 April. Namun, negosiasi tersebut berujung buntu, diikuti langkah Washington memperketat blokade maritim yang menghambat arus keluar-masuk kapal menuju pelabuhan Iran.
Dalam situasi yang masih rapuh, langkah diplomasi melalui Pakistan menjadi salah satu kanal terakhir yang diharapkan dapat membuka jalan menuju deeskalasi konflik di kawasan. (Xinhua/ihd)














