Seruan itu disampaikan Xi saat menerima Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, di Beijing, Selasa (14/4/2026), sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Xinhua. Dalam pertemuan tersebut, Xi menekankan bahwa dunia tengah berada dalam fase ketidakpastian yang mempertemukan dua kutub: supremasi hukum dan dominasi kekuasaan.
“Dunia saat ini berada dalam gejolak, dihadapkan pada pertarungan antara supremasi hukum dan kekuasaan,” ujar Xi. Ia mendorong Beijing dan Madrid untuk bersama-sama mempertahankan multilateralisme yang dinilai semakin tergerus oleh pendekatan sepihak.
Pernyataan Xi tidak secara eksplisit menyinggung konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Namun, baik China maupun Spanyol sebelumnya telah menyuarakan kritik terhadap serangan tersebut, yang dinilai sebagai tindakan ilegal dan tidak dapat diterima dalam kerangka hukum internasional.
Kunjungan Sánchez ke China berlangsung selama lima hari sejak Sabtu (11/4/2026), menandai intensitas hubungan bilateral kedua negara. Ini merupakan kunjungan keempat Sánchez sejak menjabat sebagai kepala pemerintahan Spanyol.
Hubungan diplomatik kedua negara juga diperkuat melalui kunjungan kenegaraan Felipe VI beberapa bulan sebelumnya—kunjungan pertama seorang raja Spanyol ke China dalam hampir dua dekade.
Dari sisi ekonomi, China tetap menjadi mitra dagang terbesar Spanyol di luar Uni Eropa. Nilai perdagangan bilateral kedua negara tercatat melampaui 55 miliar dollar AS atau sekitar Rp942,3 triliun pada tahun lalu, mencerminkan hubungan ekonomi yang kian erat di tengah dinamika global. (Anadolu/ihd)














