Sekitar pukul 10.00 WIB, Rismon tiba di Istana Wapres didampingi kuasa hukumnya. Pertemuan berlangsung tanpa kehadiran awak media. Namun ketika pintu ruangan terbuka kembali, Gibran dan Rismon keluar bersama dan menyapa para jurnalis yang menunggu di halaman.
Gibran, mengenakan jas biru dongker dan kemeja putih, tampak berbincang singkat sebelum menjabat tangan Rismon. Dalam suasana yang cair, Wakil Presiden bahkan memeluknya.
“Terima kasih, terima kasih. Pokoknya kita ini seperti saudara. Sudah, tidak ada apa-apa lagi,” ujar Gibran.
Momen itu menjadi simbol penutup dari polemik yang sebelumnya mengemuka di ruang publik. Bahkan, sebelum pertemuan berakhir, Gibran menyerahkan sebuah parsel besar kepada Rismon.
“Ini, kan mau pulang kampung,” kata Gibran sambil tersenyum.
Rismon yang berasal dari Balige, Sumatera Utara terlihat tertawa sambil menerima bingkisan tersebut, meskipun tampak sedikit kewalahan membawa parsel berukuran besar itu.
Klarifikasi Penelitian
Nama Rismon sebelumnya menjadi sorotan setelah ia meneliti dan menulis mengenai ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo dalam bukunya Jokowi’s White Paper. Ia juga sempat menjadi tersangka dalam perkara dugaan penyebaran tuduhan ijazah palsu.
Namun melalui klarifikasi yang diunggah di kanal YouTube Balige Academy pada Rabu (11/3), Rismon menyampaikan hasil kajian terbaru yang berbeda dari pernyataan sebelumnya.
Ia mengaku menemukan sejumlah bukti teknis pada dokumen ijazah yang menunjukkan konsistensi keaslian, termasuk pada bagian emboss dan watermark. Temuan itu, menurutnya, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan akademik.
“Sebagai peneliti, saya harus bertanggung jawab secara ilmiah. Saya juga meminta maaf kepada publik, terlebih kepada Bapak Joko Widodo,” ujar Rismon dalam klarifikasinya.
Ia menambahkan bahwa perubahan kesimpulan tersebut merupakan bagian dari proses penelitian yang independen, sekaligus konsekuensi dari kerja akademik yang terbuka terhadap koreksi.
Ramadan dan Ruang Memaafkan
Menanggapi permintaan maaf itu, Gibran menyatakan bahwa momentum bulan Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk merajut kembali hubungan yang sempat renggang.
“Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat baik untuk saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan,” ujar Gibran dalam keterangan tertulis yang disampaikan sehari sebelumnya.
Menurutnya, sikap Rismon yang bersedia melakukan klarifikasi dan meninjau ulang pernyataannya menunjukkan kedewasaan dalam kehidupan demokrasi.
Pertemuan singkat di Istana Wapres itu, pada akhirnya, bukan sekadar pertemuan dua orang. Ia menjadi gambaran kecil bagaimana polemik publik dapat menemukan titik henti: melalui klarifikasi, dialog, dan kesediaan untuk saling memaafkan. (ihd)














