Prabowo Buka Opsi Indonesia Keluar dari Dewan Perdamaian Gaza

Selasa, 3 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Luar Negeri Sugiono memberi keterangan kepada wartawan di Istana Negara, Selasa (3/2/2026). (Setneg)

Menteri Luar Negeri Sugiono memberi keterangan kepada wartawan di Istana Negara, Selasa (3/2/2026). (Setneg)

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto membuka kemungkinan Indonesia menarik diri dari keanggotaan Dewan Perdamaian Gaza (Board of Peace/BoP) apabila lembaga internasional tersebut tidak sejalan dengan tujuan utama perjuangan Palestina, yakni kemerdekaan dan kedaulatan penuh.

Sikap itu disampaikan Prabowo saat berdialog dengan perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam dan sejumlah tokoh muslim nasional di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026). Dalam pertemuan yang dihadiri lebih dari 40 ulama dan tokoh masyarakat itu, Presiden merespons langsung sejumlah pertanyaan kritis terkait posisi Indonesia dalam BoP, sebuah inisiatif perdamaian yang diprakarsai Presiden Amerika Serikat Donald Trump Jr.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis yang hadir dalam pertemuan tersebut mengatakan, Presiden menegaskan bahwa keikutsertaan Indonesia di BoP bukanlah komitmen tanpa syarat. Menurut Cholil, Prabowo menyampaikan dua sikap utama: Indonesia dapat memilih untuk tidak mengikuti keputusan BoP yang bertentangan dengan pandangan nasional, serta siap keluar dari keanggotaan jika upaya perubahan dari dalam tidak memungkinkan.

“Kalau memang tidak bisa melakukan perubahan, beliau siap keluar dari BoP. Itu yang saya tangkap dari penjelasan Presiden,” ujar Cholil Nafis.

Dalam pertemuan itu, Prabowo juga menjelaskan latar belakang keputusan Indonesia bergabung dengan BoP. Presiden membuka ruang dialog dengan para ulama dan kiai, mendengarkan masukan sekaligus kritik terkait potensi keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian di Gaza.

KH Cholil Nafis secara terbuka menyampaikan sikap skeptis MUI terhadap BoP. Ia menekankan kekhawatiran agar pasukan perdamaian Indonesia—jika suatu saat ditugaskan—tidak justru berada pada posisi yang berseberangan dengan rakyat Palestina yang tengah memperjuangkan kemerdekaannya.

“Kami tidak ingin hanya damai semu, sementara mereka masih terjajah. Yang kami kehendaki adalah damai dan merdeka,” kata Cholil menegaskan sikap MUI di hadapan Presiden.

Menanggapi pandangan tersebut, Prabowo kembali menegaskan bahwa Indonesia tidak akan ragu mengambil langkah tegas. Menurut Cholil, Presiden menyatakan Indonesia akan memilih abstain atau tidak terlibat dalam keputusan BoP yang tidak sesuai dengan prinsip politik luar negeri Indonesia. Bahkan, opsi keluar sepenuhnya tetap terbuka jika kehadiran Indonesia tidak membawa dampak berarti.

Sikap Presiden itu dibenarkan Menteri Luar Negeri Sugiono. Ia menyatakan, arah kebijakan Indonesia di BoP tetap berada dalam koridor yang jelas: terwujudnya perdamaian di Gaza, perdamaian di Palestina secara menyeluruh, dan pada akhirnya kemerdekaan serta kedaulatan Palestina.

“Kalau tidak sesuai dengan tujuan itu, tentu Indonesia akan mengevaluasi posisinya. Trajektori yang ingin kita capai jelas, dan koridor-koridornya ada di situ,” ujar Sugiono.

Pernyataan tersebut menegaskan kembali konsistensi sikap Indonesia dalam isu Palestina: aktif mendorong perdamaian, namun tetap berpegang pada prinsip keadilan dan kemerdekaan sebagai fondasi utama. (ihd)

Berita Terkait

May Day 2026 di Monas Jadi Simbol Rekatnya Buruh dan Negara
Satgas PHK dan Janji Negara Hadir di Tengah Ketidakpastian Buruh
Dudung Abdurahman Pimpin KSP, Pangkas Birokrasi dan Buka Layanan Aduan 24 Jam
Prabowo Rombak Kabinet, Jumhur Hidayat Jadi Menteri Lingkungan Hidup
Idul Fitri 1447 H Ditetapkan Sabtu 21 Maret 2026, Hilal Tak Terlihat di 177 Titik
Atalia Praratya Dukung Pembatasan AI Instan dan Media Sosial pada Anak
Ramadhan Penuh Maaf di Istana Wapres, Gibran dan Rismon Menutup Polemik Ijazah Jokowi
Wanda Hamidah: Indonesia Harus Keluar dari BOP, Jangan Duduk Bersama Penjahat Perang

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:27 WIB

May Day 2026 di Monas Jadi Simbol Rekatnya Buruh dan Negara

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:08 WIB

Satgas PHK dan Janji Negara Hadir di Tengah Ketidakpastian Buruh

Senin, 27 April 2026 - 18:39 WIB

Dudung Abdurahman Pimpin KSP, Pangkas Birokrasi dan Buka Layanan Aduan 24 Jam

Senin, 27 April 2026 - 17:29 WIB

Prabowo Rombak Kabinet, Jumhur Hidayat Jadi Menteri Lingkungan Hidup

Kamis, 19 Maret 2026 - 20:54 WIB

Idul Fitri 1447 H Ditetapkan Sabtu 21 Maret 2026, Hilal Tak Terlihat di 177 Titik

Berita Terbaru