JENDELANUSANTARA.COM, JAKARTA – Pembina Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI), Komjen Pol. Prof. Dr. Chrysnanda Dwi Laksana yang juga Ketua Pusat Studi Ilmu Kepolisian bersama Kepala Satuan Tugas Pusat Studi Kepolisian, Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo M.Si menghadiri sekaligus membuka Pameran “INDONESIA HA HA HI HI 2026”, yang diramaikan 30 Kartunis dengan menghadirkan Humor yang Mencerdaskan Para kartunis yang tergabung dalam Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI) menampilkan lebih dari 40 karya kartun dalam pameran Mengusung semangat bahwa humor merupakan bahasa universal yang mampu menghibur sekaligus mengedukasi di Balai Budaya, Jakarta Pusat, Selasa (21/7).
Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo M.Si, selama ini dikenal memiliki perhatian terhadap penguatan pendidikan melalui pendekatan budaya dan kreativitas.
Dalam sambutannya, Irjen Pol. Susilo Teguh Raharjo menegaskan bahwa, pendidikan karakter memerlukan berbagai pendekatan kreatif yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui buku dan ruang kelas. Seni adalah media pembelajaran yang sangat efektif karena mampu menyentuh hati, membangun imajinasi dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan. Kartun menghadirkan pesan moral tanpa kehilangan unsur kegembiraan. Karena itu, saya mengapresiasi terselenggaranya pameran ini sebagai bagian dari upaya membangun budaya belajar yang lebih kreatif, inklusif dan membahagiakan.
“Semoga kegiatan ini menginspirasi semakin banyak melahirkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat karakter bangsa,” imbuhnya.
Ditempat yang sama, Pembina Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI), Komjen Pol. Prof. Dr. Chrysnanda Dwi Laksana, menilai, kartun merupakan salah satu bentuk komunikasi publik yang efektif karena mampu menjembatani pesan-pesan sosial dengan pendekatan yang humanis. Humor yang cerdas merupakan bagian dari peradaban. Kartun mengajarkan masyarakat untuk melihat persoalan secara lebih jernih, tanpa kehilangan empati dan rasa kemanusiaan.
“Di balik kelucuan sebuah gambar sering kali tersimpan refleksi yang mendalam mengenai kehidupan sosial, hukum, budaya, hingga nilai-nilai kebangsaan. Karena itu, kartun memiliki fungsi edukatif yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang kritis, berbudaya dan berkarakter,” ungkapnya.
Ia berharap, ruang-ruang apresiasi seperti ini terus berkembang sehingga kartun Indonesia semakin dikenal sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.
Sementara itu, Ketua Panitia, Jan Praba, mengatakan bahwa, pameran ini lahir dari keyakinan bahwa kartun memiliki kekuatan untuk menyampaikan gagasan-gagasan besar melalui bahasa visual yang sederhana dan mudah dipahami semua kalangan.
“Kartun adalah seni yang mampu membuat orang tertawa sekaligus berpikir. Dalam satu gambar, kartunis dapat menyampaikan kritik, harapan, bahkan solusi tanpa harus menggurui. Melalui INDONESIA HA HA HI HI 2026, diharapkan mampu menghidupkan kembali ruang apresiasi terhadap kartun Indonesia sebagai bagian penting dari kebudayaan dan literasi publik. Kami berharap pameran ini menjadi ruang perjumpaan antara seniman, pelajar, akademisi, keluarga dan masyarakat luas untuk merayakan kreativitas sekaligus memperkuat semangat optimisme melalui humor. Kehadiran para kartunis dari berbagai daerah juga menunjukkan bahwa seni kartun Indonesia terus berkembang dan memiliki daya hidup yang kuat di tengah perubahan media komunikasi yang semakin digital,” ungkapnya.
Mewakili Balai Budaya Jakarta, Syahnagra menyampaikan bahwa, penyelenggaraan pameran ini sejalan dengan komitmen Balai Budaya Jakarta sebagai ruang publik yang terbuka bagi berbagai bentuk ekspresi seni. “Balai Budaya Jakarta percaya bahwa seni harus dapat diakses oleh siapa pun. Kartun bukan sekadar hiburan, melainkan karya visual yang mampu mereka dinamika zaman, mengajak masyarakat berdialog, sekaligus memperkuat budaya literasi. Kami menyambut baik kolaborasi ini karena menghadirkan ruang pertemuan antara kreativitas, budaya dan masyarakat dalam suasana yang hangat dan menyenangkan,” katanya.
Pada kesempatan itu, Pelukis Ames Abadi, memberikan hasil karyanya berupa lukisan dengan judul *Muti* berbahan kertas & ballpoin yang artinya rejeki itu sudah diambil pada yang mengetahui, diberikan kepada IJP Dr. Susilo Teguh R.
Pameran ini mengajak masyarakat menikmati kartun sebagai medium seni, kritik sosial dan pendidikan karakter.
Pameran yang diselenggarakan melalui kolaborasi PAKARTI, KAMPOENG SEMAR dan Balai Budaya Jakarta ini terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Selain menikmati puluhan karya kartun dari berbagai tema, pengunjung juga dapat mengikuti sejumlah sharing session bersama para kartunis yang akan membahas perkembangan seni kartun Indonesia, proses kreatif, hingga peran kartun dalam membangun literasi visual dan budaya kritis di tengah masyarakat.
Pameran akan berlangsung Selama delapan hari penyelenggaraan, pengunjung akan disuguhi berbagai sharing session, diskusi ringan dan pertemuan langsung dengan para kartunis. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman lintas generasi sekaligus memperkenalkan profesi kartunis kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Pameran ini selain hasil kerja sama Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI), KAMPOENG SEMAR dan Balai Budaya Jakarta, dengan dukungan media partner Erakini, ipol.id dan WartaTrans. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa sinergi antara komunitas seni, institusi budaya dan media memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem seni rupa Indonesia.
Pada kesempatan ini, panitia mengundang seluruh masyarakat untuk hadir menikmati karya-karya kartun terbaik Indonesia, berdialog langsung dengan para senimannya, serta merasakan bagaimana humor dapat menjadi jembatan bagi lahirnya optimisme, kreativitas dan kecintaan terhadap budaya bangsa. (Red)














