JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Di tengah meningkatnya eskalasi militer antara Israel dan Iran, kabar tentang keberangkatan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke luar negeri memicu perdebatan publik dan spekulasi strategis. Sejumlah media Israel dan internasional menyebutkan bahwa Netanyahu telah diterbangkan ke Athena, Yunani, sesaat setelah serangan udara besar-besaran Israel menghantam sejumlah kota di Iran, termasuk Teheran, pada Jumat (13/6/2025).
Meski belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Israel, laporan ini memperlihatkan dimensi baru dari ketegangan geopolitik Timur Tengah: apakah pemimpin Israel tengah dilindungi dari ancaman balasan, atau sedang menjalankan misi diplomatik rahasia?
Evakuasi Diam-diam, Serangan Terang-terangan
13 Juni 2025: Pesawat Wing of Zion, pesawat kepresidenan Israel, lepas landas dari Bandara Ben-Gurion. Media Israel menyebut pesawat ini mengangkut PM Netanyahu.
Dikawal jet tempur: Laporan IRNA, kantor berita resmi Iran, menampilkan gambar pesawat Netanyahu yang dikawal dua jet tempur menuju lokasi yang tidak diungkap.
Tujuan diduga Athena: Channel 12 dan The Jerusalem Post mengonfirmasi pendaratan pesawat di ibu kota Yunani.
Operasi Rising Lion: Serangan udara Israel ke Iran diluncurkan bersamaan dengan keberangkatan Netanyahu. Serangan ini menargetkan infrastruktur militer dan nuklir Iran.
Langkah ini mengingatkan pada evakuasi serupa yang terjadi pada April 2024, saat Netanyahu sempat dievakuasi dari Pangkalan Udara Nevatim setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel. Dalam beberapa kasus ekstrem, pesawat Wing of Zion digunakan sebagai transportasi darurat untuk menjauhkan pemimpin negara dari titik konflik langsung.
IDF Bungkam, Iran Meluncurkan Drone
Dalam konferensi pers yang digelar Jumat pagi, Juru Bicara Militer Israel (IDF), Brigjen Effie Defrin, tidak menyebut keberangkatan Netanyahu. Ia hanya menegaskan bahwa lebih dari 100 drone Iran telah diluncurkan ke wilayah Israel. “Sebagian besar berhasil dicegat,” kata Defrin.
100+ drone Iran diluncurkan
Tingkat keberhasilan intersepsi tinggi, menurut IDF
Warga sipil tetap diimbau siaga
Instruksi keselamatan dilonggarkan sementara
Namun militer Israel juga memperingatkan bahwa situasi masih sangat fluktuatif dan protokol keamanan dapat diperketat sewaktu-waktu apabila terjadi serangan lanjutan.
Perlindungan, Diplomasi, atau Isolasi?
Mengutip laporan TRT World, keberadaan Netanyahu di luar negeri — dalam hal ini di Athena — memunculkan tiga spekulasi besar:
Langkah Perlindungan:
Menghindarkan Netanyahu dari potensi serangan balasan langsung, terutama dari rudal jarak menengah dan drone Iran.Manuver Diplomatik Jalur Belakang:
Athena dianggap lokasi netral dan aman untuk melakukan pertemuan rahasia, terutama dengan mitra seperti Amerika Serikat atau NATO.Sinyal Strategis ke Iran dan Dunia Barat:
Bisa diartikan sebagai pesan bahwa Israel tengah mempersiapkan fase lanjutan dari konflik atau membuka ruang bagi intervensi internasional.
Sejumlah analis keamanan regional menilai bahwa keberangkatan Netanyahu ini bukan hanya keputusan taktis, melainkan langkah simbolik dalam narasi konflik yang terus berkembang.
Respons Dunia dan Suasana Dalam Negeri
Hingga Sabtu malam, Pemerintah Yunani belum memberikan pernyataan resmi terkait pendaratan pesawat Israel di wilayahnya. Sementara itu, di Israel sendiri, opini publik terbelah.
Kelompok pendukung Netanyahu melihat langkah ini sebagai bentuk kesiapan dan perlindungan strategis.
Kelompok oposisi mempertanyakan legitimasi moral seorang pemimpin yang meninggalkan negerinya saat rakyatnya berada dalam ancaman perang terbuka.
Eskalasi yang Tak Terelakkan?
Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan Israel-Iran terus meningkat, terutama setelah laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Mei 2025 mengungkapkan bahwa Iran telah memperkaya uranium hingga 90 persen kemurnian — mendekati level senjata nuklir.
Serangan Israel pada Jumat lalu disebut sebagai bentuk “pencegahan dini”, namun bagi Iran, ini bisa dibaca sebagai provokasi terbuka.
Netanyahu belum kembali ke Israel.
Iran belum merespons penuh.
Ketegangan belum mencapai puncaknya.
Seiring waktu yang terus berjalan dan ketidakpastian yang meningkat, absennya sang perdana menteri dari negerinya dapat menjadi babak baru dalam narasi konflik yang belum menemukan jalan damai. (ihd)













