JENDELANUSANTARA.COM, Kediri — Aula santri putri Pondok Pesantren Ar Risalah Lirboyo berubah menjadi ruang belajar yang penuh kejutan ketika Menteri Agama Nasaruddin Umar menggelar “uji cerdas cermat” secara spontan bersama para santri. Bukan sekadar menguji hafalan, Menag mengajak para santri berdialog tentang Alquran, bahasa Arab, hingga makna pendidikan pesantren.
Suasana semakin hidup ketika Menag berhadapan dengan barisan santriwati penghafal 30 juz Alquran. Tanpa aba-aba, ia melantunkan potongan ayat dan meminta para santri menebak asal surah serta ayat tersebut.
“Surah apa yang tadi saya baca?” tanya Nasaruddin saat berada di Pesantren Ar Risalah Lirboyo, Sabtu (20/6/2026).
Seorang santriwati memberanikan diri maju ke depan panggung. Meski tampak gugup, ia menjawab dengan tepat.
“Al-Baqarah ayat 64,” jawabnya.
“Iqra! Lanjutkan!” ujar Menag.
Santriwati itu kemudian meneruskan bacaan ayat tersebut dengan tartil. Menag pun mengapresiasi kemampuan para santri.
“Masya Allah,” kata Nasaruddin.
Ujian spontan berlanjut ketika Menag mengangkat potongan doa dalam Surah Thaha ayat 114, “Rabbi zidni ilma”. Ia meminta santri membacakan ayat tersebut secara utuh sekaligus menjelaskan makna pentingnya doa yang langsung termuat dalam Alquran.
“Kalau ada doa yang diredaksikan langsung dalam Alquran, usahakan selalu dibaca. Ada tingkatan dalam berdoa,” ujar Menag.
Ia menjelaskan, doa tidak hanya sekadar rangkaian kata yang keluar dari lisan, tetapi juga berkaitan dengan kedalaman hati dan kepasrahan kepada Allah.
“Ada doa yang hanya diucapkan mulut. Ada doa yang keluar dari mulut tetapi hati dan batinnya ikut memohon kepada Allah. Dan ada doa para wali yang menyerahkan seluruh hasilnya kepada Allah karena Allah lebih tahu tentang diri kita,” tuturnya.
Setelah menguji santriwati, Menag kemudian memanggil santri laki-laki ke depan. Ia mengajak mereka memahami perbedaan antara sekolah, madrasah, dan pesantren sebagai tiga institusi pendidikan yang memiliki karakter berbeda di Indonesia.
Jawaban para santri yang runtut membuat suasana semakin hangat. Tantangan berikutnya mengarah pada kemampuan ilmu Nahwu atau tata bahasa Arab.
Menag memberikan pertanyaan sederhana tetapi memiliki jebakan pemahaman.
“Apa perbedaan balaa dan na’am?” tanyanya.
Seorang santri maju dan menjelaskan perbedaan kedua kata tersebut. Tidak berhenti pada bahasa Indonesia, Menag meminta penjelasan dalam bahasa Inggris.
Dengan percaya diri, santri tersebut menjawab:
“Balaa is of course, na’am is yes.”
Jawaban itu membuat Menag puas. Ia menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab terdapat banyak nuansa makna yang tidak selalu mudah diterjemahkan secara tepat ke bahasa Indonesia.
“Kadang ada makna dalam bahasa Arab yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan bahasa Indonesia,” kata Nasaruddin.
Tantangan berikutnya berupa hadis berbahasa Arab. Seorang santri tidak hanya mampu membacanya dengan fasih, tetapi juga menjelaskan konteks maknanya menggunakan bahasa Indonesia secara runtut.
Ujian spontan itu kemudian berkembang menjadi rangkaian pembelajaran: mulai dari sambung ayat Alquran, ilmu Nahwu, hingga pembahasan bait-bait selawat.
“Kalian harus bangga masuk pondok!” seru Menag yang disambut tepuk tangan para santri.
Menurut Nasaruddin, pesantren tidak hanya tempat mempelajari teks keagamaan, tetapi juga ruang membentuk kemampuan berpikir dan karakter.
Aksi interaktif tersebut sekaligus menunjukkan semangat pendidikan Pondok Pesantren Ar Risalah Lirboyo yang mengusung prinsip berdzikir, berfikir, dan berkarir. Para santri tidak hanya dibekali kitab kuning, tetapi juga didorong mengembangkan kemampuan lain seperti seni, sains, serta keterampilan berdiskusi.
Menutup pertemuan, Menag berpesan agar ilmu tidak menjadi alasan seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain.
“Jangan merasa pintar dan jangan suka menyalahkan orang lain. Semua orang arif pasti pintar, tetapi tidak semua orang pintar itu arif,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar Alqluran tidak hanya dipahami sebagai kitab tertulis, tetapi juga sebagai Kalamullah yang terus memberi makna dalam kehidupan.
Siang itu, para santri Ar Risalah Lirboyo bukan hanya menghadapi ujian spontan dari seorang menteri, tetapi juga mendapat pesan tentang pentingnya ilmu yang berjalan bersama kebijakan. (ihd)














