JENDELANUSANTARA.COM, YOGYAKARTA – Keterbatasan pendampingan bagi penyandang disabilitas psikososial masih menjadi tantangan umum di wilayah Gunungkidul. Salah satunya seperti yang terjadi di Kalurahan Siraman, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul. Di Kalurahan Siraman, terdapat 34 Orang Dengan Disabilitas Psikososial (ODDP). Namun, hanya separuhnya yang mendapatkan pendampingan dari Puskesmas setempat.
Kesenjangan tersebut kemudiandijawab oleh sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Melalui program layanan terpadu kesehatan jiwa dan ekonomi kreatif.
Program yang diberi nama LENTERA SIRAMAN tersebut digawangi mahasiswa UMY yang tergabung dalam Nursing Care Club Emergency, sebuah organisasi mahasiswa di bawah naungan prodi Ilmu Keperawatan UMY. Program ini pun berhasil mendapatkan pendanaan penuh dari Young Sustainability Initiative.
Syafa’ah Nur Aisyah, mahasiswa Ilmu Keperawatan UMY sekaligus ketua tim, mengatakan 34 ODDP tersebut memang terdata di Puskesmas. Namun, hanya sekitar 50 persen di antaranya yang mendapat pendampingan dan mengikuti kegiatan bersama. Menurutnya, kader kesehatan jiwa yang membantu hanya sekitar tiga orang. Ini menjadikan beban kerja dari masing-masing kader tersebut sangat berat.
Dari sisi ekonomi, terdapat 888 kartu keluarga yang tergolong tidak mampu di kalurahan tersebut. Syafa’ah menyebut keluarga ODDP menilai keterbatasan ekonomi sebagai salah satu penyebab gangguan yang mereka alami.
Empat Program Unggulan LENTERA SIRAMAN
Program LENTERA SIRAMAN yang ditawarkan oleh Syafa’ah dan timnya ini memiliki empat program, masing-masing menyasar kelompok yang berbeda. Program pertama yang diusung adalah Sahabat Jiwa, menyasar ODDP dan keluarga pendamping. Isinya merupakan terapi okupasi berbahan dari kalurahan agar ODDP punya kegiatan rutin di luar rumah.
“Keluarga pendamping mengikuti lima kali pelatihan manajemen kesehatan jiwa. Kami juga memeriksa kolesterol, asam urat, dan gula darah dari ODDP beserta keluarganya,” ujar Syafa’ah saat diwawancarai pada Senin (21/9).
Selain itu, ia dan timnya juga membuat media bot planner untuk memantau aktivitas harian dan konsumsi obat ODDP di rumah.
Program kedua, Kasih Jiwa, menyasar kader kesehatan. Para peserta mengikuti lima kali pelatihan agar dapat menjadi kader kesehatan jiwa. Pendataan ODDP pun dilakukan dengan berbasis website. Publik dapat melihat jumlah dan kategori ODDP, sedangkan data lebih rinci hanya bisa diakses kader.
Program ketiga adalah Kompas Remaja yang menyasar remaja Karang Taruna. Menurut Syafa’ah, tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih calon konselor sebaya, serta menentukan penanggung jawabnya. Konselor sebaya akan bertugas menjalankan skrining kesehatan mental melalui website khusus.
“Hasilnya akan langsung menunjukkan apakah remaja tergolong berisiko atau tidak. Nantinya, remaja yang berisiko akan dikumpulkan untuk mendapat edukasi kesehatan mental,” imbuhnya.
Terakhir merupakan Cakrawala sebagai program keempat, yang menyasar perekonomian warga dengan ibu-ibu PKK sebagai penggerak. Mereka dilatih membuat ecoprint, lalu mengajarkannya kepada ODDP dan warga lain. Hingga saat ini, Syafa’ah mengklaim sudah ada pesanan ecoprint sekitar 300 pieces.
Ruang Cerita Keluarga ODDP
Syafa’ah menyebut bahwa warga di Kalurahan Siraman menyambut berbagai program tersebut dengan antusias dan mendukung. Karena Syafa’ah dan timnya melakukan kunjungan _door to door_ ke rumah para warga, momen tersebut juga menjadi ruang bercerita bagi keluarga ODDP.
“Mereka jadi seperti difasilitasi tempat untuk bercerita. Jadi mereka bisa meluapkan sebentar beban yang selama ini mereka rasakan selama ini, termasuk di keluarganya,” pungkas Syafa’ah.
Ia berharap program LENTERA SIRAMAN tidak berhenti tahun ini. Jika memungkinkan, Syafa’ah dan timnya berencana kembali menjadikan Kalurahan Siraman sasaran pada tahun berikutnya agar persoalan lain di luar kesehatan jiwa turut teratasi. (GLA)
Sumber : humas umy














