JENDELANUSANTARA.COM, Washington — Gedung Putih menolak menetapkan tenggat waktu bagi perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Pemerintah AS menyatakan masih menunggu kejelasan sikap Teheran dalam beberapa pekan mendatang.
“Diplomasi selalu menjadi opsi pertama beliau,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam taklimat pers harian, merujuk pada Presiden Donald Trump.
Meski demikian, Leavitt menegaskan terdapat “banyak alasan dan argumen” yang dapat mendasari tindakan militer terhadap Iran. Ia menolak menetapkan batas waktu perundingan dan menyatakan tidak akan “menetapkan tenggat atas nama presiden”.
Sehari sebelumnya, Wakil Presiden JD Vance menyebut perundingan menunjukkan sejumlah tanda positif. Namun, ia menekankan “garis merah” utama Washington belum terpenuhi, tanpa merinci poin yang dimaksud.
Laporan Axios pada Selasa (17/2/2026) menyebut Gedung Putih kian mendekati opsi aksi militer jika diplomasi gagal. Seorang penasihat presiden bahkan mengestimasi “peluang 90 persen” terjadinya serangan dalam beberapa pekan ke depan apabila tidak tercapai kesepakatan.
Menurut laporan tersebut, operasi militer AS berpotensi berupa kampanye berskala besar selama beberapa pekan, dengan kemungkinan melibatkan Israel. Targetnya mencakup program nuklir dan rudal Iran serta dapat menimbulkan ancaman serius terhadap kepemimpinan Teheran.
Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah kembali dalam ketidakpastian, di tengah tarik-menarik antara jalur diplomasi dan potensi eskalasi militer yang kian terbuka. (sputnik/ihd)














