Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Edy Prakoso mengatakan, temuan badan pesawat merupakan hasil operasi terpadu yang melibatkan unsur udara dan darat sejak laporan hilang kontak diterima pada Sabtu (17/1/2026).
“Indikasi awal keberadaan pesawat terdeteksi sekitar pukul 07.17 WITA, ketika pesawat patroli udara melaporkan adanya serpihan berwarna putih di sekitar kawasan Bukit Bulusaraung. Informasi tersebut kemudian kami konfirmasi ulang melalui helikopter SAR,” ujar Edy saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Berdasarkan laporan Kantor SAR Makassar, penyisiran udara menjadi krusial mengingat keterbatasan jarak pandang dari darat akibat kabut tebal yang kerap menyelimuti kawasan pegunungan tersebut pada pagi hari. Setelah titik indikatif ditentukan, tim SAR darat yang telah disiagakan sejak dini hari langsung bergerak menuju lokasi.
Sekitar pukul 08.02 WITA, tim darat menemukan serpihan besar pesawat di sisi utara puncak Bukit Bulusaraung. Tujuh menit kemudian, tepatnya pukul 08.09 WITA, badan pesawat berhasil diidentifikasi berada tidak jauh dari titik temuan awal. Proses identifikasi dilakukan secara visual dan koordinat lokasi langsung dilaporkan ke posko utama operasi SAR.
Edy menjelaskan, hingga Minggu pagi, fokus utama tim masih pada pemantapan lokasi dan penilaian risiko sebelum dilakukan evakuasi lebih lanjut. Faktor cuaca menjadi tantangan utama, dengan kecepatan angin yang cukup tinggi serta kondisi berkabut yang membatasi manuver helikopter.
“Helikopter masih berupaya mencari titik aman untuk menurunkan personel SAR di lokasi terdekat dari posisi badan pesawat. Medannya sangat curam dan tidak semua area memungkinkan untuk pendaratan atau hovering dalam waktu lama,” kata Edy.
Operasi SAR melibatkan puluhan personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, serta relawan lokal yang memahami karakter medan Bulusaraung. Peralatan khusus pendakian dan evakuasi di medan karst turut disiapkan, mengingat kawasan tersebut memiliki tebing-tebing batu kapur dengan elevasi ratusan meter di atas permukaan laut.
Basarnas menegaskan bahwa informasi lanjutan terkait kondisi pesawat dan proses evakuasi akan disampaikan secara bertahap setelah asesmen keselamatan dinyatakan memadai. “Prinsip utama kami adalah keselamatan tim di lapangan dan akurasi informasi. Kami tidak ingin berspekulasi sebelum seluruh data terverifikasi,” ujar Edy.
Hingga Minggu siang, area penemuan masih disterilkan untuk kepentingan operasi SAR dan penyelidikan lebih lanjut sesuai prosedur yang berlaku. (ihd)














