Era AI Ubah Peran Perpustakaan, Tak Lagi Sekadar Menyediakan Informasi

Selasa, 4 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., dalam pidato kunci pada hari pertama Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 di UMY

Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., dalam pidato kunci pada hari pertama Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 di UMY

JENDELANUSANTARA.COM, Yogyakarta – Perkembangan kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence /AI) tidak hanya mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, tetapi juga menggeser peran perpustakaan. Jika selama ini perpustakaan berfokus menyediakan akses terhadap sumber pengetahuan, kini tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks, yakni memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar di tengah derasnya arus informasi yang dihasilkan AI.

Pandangan tersebut disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., dalam pidato kunci pada hari pertama Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Student Dormitory, Selasa (4/8/2026). Pelaksanaan KPDI ke-17 ini akan berlangsung hingga Kamis (6/8/2026).

Menurut Aminudin, transformasi digital perpustakaan yang selama ini identik dengan digitalisasi koleksi, pembangunan repositori, interoperabilitas metadata, hingga perluasan akses informasi kini memasuki fase yang lebih kompleks. Kehadiran AI tidak hanya mengubah teknologi yang digunakan, tetapi juga mengubah cara manusia berpikir, belajar, mencari informasi, mengambil keputusan, bahkan membangun pengetahuan.

“Selama ini pertanyaan utama perpustakaan adalah bagaimana menyediakan informasi. Namun hari ini pertanyaannya telah berubah menjadi bagaimana memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar. Bagaimana membangun kemampuan berpikir kritis di tengah banjir informasi, menggunakan dukungan AI tanpa kehilangan integritas, etika, dan moral, serta menjaga agar perpustakaan tetap menjadi institusi yang dipercaya ketika mesin mampu menghasilkan jawaban hanya dalam hitungan detik,” ujar Aminudin.

Perkembangan AI memang membuka berbagai peluang bagi masyarakat. Teknologi tersebut mampu mempercepat pencarian informasi, merangkum dokumen dalam waktu singkat, membantu penerjemahan berbagai bahasa, mendukung penelitian, hingga memperluas akses pembelajaran yang lebih inklusif. Namun di balik berbagai kemudahan tersebut, AI juga dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat, bias, tidak memiliki sumber yang jelas, bahkan sepenuhnya keliru meski disajikan dengan cara yang meyakinkan.

Perubahan tersebut, menempatkan perpustakaan pada posisi yang semakin strategis. Perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi menyediakan akses terhadap informasi, tetapi juga berperan membangun kecakapan literasi informasi, digital, dan data agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab. Menurutnya, transformasi yang sedang terjadi bukan semata-mata tentang perkembangan teknologi, melainkan tentang kesiapan manusia dalam menghadapinya.

“Pusat perubahan dan transformasi bukanlah teknologi, melainkan manusia. Perpustakaan memiliki tanggung jawab membangun masyarakat yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi untuk mengakses dan memproduksi informasi. Namun juga sadar terhadap kualitas informasi, kredibilitas sumber, keamanan data pribadi, perlindungan hak cipta, serta pentingnya etika dalam pemanfaatan AI,” jelasnya.

Ia juga menyoroti perubahan perilaku masyarakat dalam mencari informasi. Jika sebelumnya seseorang terbiasa menelusuri berbagai referensi sebelum menyusun kesimpulan sendiri, kini banyak pengguna lebih memilih memperoleh jawaban secara instan melalui platform berbasis AI. Perubahan perilaku tersebut, perlu dipahami oleh perpustakaan agar mampu menghadirkan layanan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pengguna, tanpa mengurangi kualitas akademik maupun integritas informasi.

“Perpustakaan masa depan bukanlah perpustakaan yang memiliki teknologi paling canggih. Melainkan perpustakaan yang mampu membangun manusia yang cerdas, kritis, kreatif, adaptif, dan berintegritas dalam memanfaatkan informasi. Teknologi akan terus berubah, tetapi nilai dasar perpustakaan sebagai institusi yang menjamin akses terhadap pengetahuan yang terpercaya, mendukung pembelajaran sepanjang hayat, menjaga memori kolektif bangsa, dan memperkuat budaya literasi masyarakat akan tetap dibutuhkan,” tutup Aminudin. (lsi)

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Satoria Hotel Yogyakarta Rayakan Anniversary ke-9, “Together We 9row” Jadi Semangat Tumbuh Bersama
KKRI Hadir sebagai Ekstrakurikuler Pilihan Tahun Ajaran 2026/2027
Delapan Tahun Pascarevisi UU Terorisme, Pendekatan Pencegahan Terus Diperkuat
Penanggulangan Terorisme di Indonesia Mulai Libatkan Keluarga dalam Reintegrasi Eks Napiter
Cris Kuntadi: AI Bantu Auditor Kemnaker Saring Data dan Deteksi Risiko Lebih Cepat
Verifikasi MagangHub, Kemnaker Manfaatkan AI Deteksi Pendaftaran Tak Lazim
Semarak HUT ke-270, Pemkot Yogyakarta Gelar FestiSale Libatkan Beragam Pelaku Usaha
Student Fair 2026, UMY Dorong Mahasiswa Bangun Jejaring dan Kembangkan Potensi

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Satoria Hotel Yogyakarta Rayakan Anniversary ke-9, “Together We 9row” Jadi Semangat Tumbuh Bersama

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:46 WIB

KKRI Hadir sebagai Ekstrakurikuler Pilihan Tahun Ajaran 2026/2027

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Delapan Tahun Pascarevisi UU Terorisme, Pendekatan Pencegahan Terus Diperkuat

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:16 WIB

Penanggulangan Terorisme di Indonesia Mulai Libatkan Keluarga dalam Reintegrasi Eks Napiter

Rabu, 30 September 2026 - 16:05 WIB

Cris Kuntadi: AI Bantu Auditor Kemnaker Saring Data dan Deteksi Risiko Lebih Cepat

Berita Terbaru