JENDELANUSANTARA.COM, Bandung — Subuh belum menampakkan cahaya ketika tim Prabu Lodaya Presisi Polrestabes Bandung menerima laporan yang menguji nyawa. Seorang pria muda terlihat berdiri di tepi Flyover Pasupati, Kota Bandung, Selasa (3/6/2025) pukul 04.35 WIB. Tubuhnya bergeming di atas jalur arah timur jembatan layang yang melintang di jantung kota itu. Kaki di ujung aspal, niat di ujung tanduk.
“Posisinya sudah di luar pagar pembatas. Kami langsung turun dari kendaraan dan melompat menyeberang ke sisi flyover,” kata Ipda Nurwakhid, Kepala Tim 3 Prabu Lodaya, kepada Jennus, Selasa siang.
Dalam situasi genting, para personel tak sempat memikirkan prosedur pengamanan. Beberapa anggota memilih memarkir kendaraan secara darurat, bergegas melompati median jalan, dan mendekati pria itu secara perlahan. “Kami khawatir kalau dia terkejut atau panik, bisa langsung melompat,” ujar Nurwakhid.
Beruntung, upaya negosiasi kilat yang dilakukan petugas berhasil. Pria itu akhirnya ditarik ke posisi aman. Lantas, polisi melakukan interogasi singkat di tempat. Dari pengakuannya, aksi nekat itu dipicu perkara asmara.
“Ia baru saja bertengkar dengan pacarnya. Kabarnya, sang kekasih sempat melaporkannya ke Polrestabes atas dugaan kekerasan,” kata Nurwakhid. Namun laporan tersebut, menurut dia, lebih bersifat sebagai teguran emosional dan belum diproses hukum. “Kalau dia bersedia menandatangani surat perjanjian tidak mengulangi perbuatan, laporannya bisa dicabut.”
Petugas juga mencium bau alkohol dari pria tersebut. “Namun bukan dalam kondisi mabuk berat,” ujar Nurwakhid. Hal ini mempertegas kesimpulan bahwa pria itu sedang dalam kondisi emosional yang tidak stabil, tapi masih bisa diajak berkomunikasi meski sulit.
Setelah proses pembinaan awal, pria itu dipulangkan ke keluarganya. Polisi berharap kejadian serupa tidak terulang.
Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2023, bunuh diri menjadi penyebab kematian kedua terbesar di kalangan usia 15-29 tahun di dunia. Di Indonesia, data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa lebih dari 2.000 kasus bunuh diri tercatat setiap tahunnya, dengan tren peningkatan pasca-pandemi. Tekanan emosional akibat hubungan interpersonal, ekonomi, dan kesehatan mental menjadi pemicu dominan.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya intervensi dini dan respons cepat dari aparat serta masyarakat terhadap tanda-tanda risiko bunuh diri. Penanganan krisis mental, termasuk layanan konseling dan dukungan psikologis, masih menjadi pekerjaan rumah besar di banyak daerah.
“Kami hanya berharap yang bersangkutan bisa menerima bantuan yang tepat. Nyawa tak bisa dipulihkan sekali hilang,” kata Nurwakhid menutup percakapan. (ihd)














