Dari Sindiran Jadi Personal Branding, Pengamat UMY Analisis Viralitas Lagu MBG

Rabu, 3 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, Fenomena viral lagu “MBG (Mas Bahlil Ganteng)” di media sosial menarik perhatian pengamat media sekaligus dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Fajar Junaedi, S.Sos., M.Si. Menurutnya, popularitas lagu tersebut menunjukkan bagaimana algoritma media sosial mampu mengubah sebuah sindiran menjadi instrumen penguatan citra tokoh publik.

Lagu yang dikenal melalui lirik “Buah apa yang paling manis? Buaahhlil…” awalnya banyak dipahami sebagai bentuk sarkasme warganet terhadap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Di tengah berbagai isu publik yang berkaitan dengan sektor energi dan kebijakan pemerintah, lagu tersebut hadir dengan pujian yang dianggap berlebihan dan bernuansa humor.

Menurut Fajar, sarkasme merupakan salah satu bentuk ekspresi yang kerap digunakan masyarakat digital Indonesia untuk menyampaikan kritik terhadap figur publik. Namun, ketika sebuah sindiran terus diulang dan dikonsumsi secara massal, makna kritis yang terkandung di dalamnya dapat mengalami pergeseran.

“Awalnya lagu ini dibaca sebagai sindiran. Namun, ketika terus direproduksi, diputar, dan digunakan berulang kali di berbagai platform, sarkasme itu menjadi banal. Yang semula tajam berubah menjadi hiburan,” jelasnya dalam keterangan yang disampaikan secara daring, Rabu (3/6).

Algoritma Tidak Membaca Niat, Hanya Interaksi

Fajar menilai fenomena tersebut terlihat dari perkembangan lagu MBG di berbagai platform digital. Lagu itu tidak hanya digunakan sebagai media kritik, tetapi juga berkembang menjadi sound populer untuk video hiburan, remix musik, hingga berbagai konten kreatif yang dinikmati lintas kelompok usia, termasuk anak-anak.

Ia menjelaskan bahwa algoritma media sosial pada dasarnya tidak membedakan apakah suatu konten dibuat sebagai kritik, dukungan, maupun lelucon. Sistem hanya membaca tingkat interaksi pengguna, seperti jumlah tayangan, komentar, pembagian ulang (share), hingga durasi tontonan.

“Semakin tinggi engagement sebuah konten, semakin besar pula peluangnya untuk didistribusikan kepada lebih banyak pengguna. Algoritma tidak peduli dengan niat awal pembuatnya,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Fajar melihat bahwa lagu MBG justru berpotensi memperkuat personal branding Bahlil. Konten yang awalnya lahir dari ruang kritik publik berubah menjadi eksposur positif karena terus beredar dan semakin dikenal masyarakat luas.

Menurutnya, fenomena ini menunjukkan ironi komunikasi digital masa kini. Kritik yang direproduksi secara berlebihan berpotensi kehilangan daya gugatnya dan justru menciptakan efek sebaliknya, yakni meningkatkan popularitas pihak yang menjadi sasaran kritik.

Dari Kritik Menjadi Aset Komunikasi Politik

Fajar juga menyoroti respons Bahlil dan Partai Golkar yang memilih menanggapi fenomena tersebut dengan santai. Sikap tersebut dinilai sebagai strategi komunikasi yang efektif karena tidak memberikan ruang bagi eskalasi kritik baru di media sosial.

“Alih-alih bersikap defensif atau marah, mereka justru menerima dan merangkul meme tersebut. Akibatnya, citra yang terbentuk menjadi lebih dekat, lebih santai, dan lebih mudah diterima publik,” katanya.

Lebih lanjut, ia membandingkan fenomena MBG dengan sejumlah tren politik digital sebelumnya yang berhasil mengubah candaan maupun sindiran menjadi aset komunikasi politik. Dalam ekosistem media sosial, batas antara kritik, hiburan, dan promosi menjadi semakin tipis karena semuanya diproses melalui logika algoritma yang sama.

Menurut Fajar, fenomena lagu MBG menjadi contoh penting bagaimana komunikasi politik di era digital tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh pembuat pesan. Setelah sebuah konten masuk ke dalam arus algoritma, maknanya dapat berubah mengikuti pola konsumsi publik dan dinamika media sosial.

“Ini menunjukkan bahwa di era algoritma, sebuah sarkasme tidak selalu berakhir sebagai kritik. Dalam kondisi tertentu, ia justru dapat menjadi instrumen personal branding yang sangat efektif,” pungkasnya. (lsi)

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

MES DIY Dorong Mahasiswa Jadi Motor Inovasi Ekonomi Syariah Digital
KAI Hadirkan Becak Listrik, Perkuat Pariwisata Berkelanjutan di Yogyakarta
Kapitalisme Religius Dipandang Mampu Menjawab Tantangan Dunia Islam Modern
Meluas ke Sekitar Rumah, Titik Api Misterius di Kasuran Jadi Sorotan
Kasus Kematian Balita Usai CT Scan di RSUD Prambanan Masuk Penyelidikan Polda DIY
Respons Cepat Harda, Proses Pergantian Lurah Condongcatur Mulai Disiapkan
Kunjungi Sleman, Danrem Pamungkas Tekankan Peran Prajurit sebagai Contoh di Tengah Masyarakat
Dari Pikiran ke Perilaku: Psikolog UMY Ungkap Cara Mengelola Overthinking pada Mahasiswa

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 20:59 WIB

MES DIY Dorong Mahasiswa Jadi Motor Inovasi Ekonomi Syariah Digital

Rabu, 3 Juni 2026 - 20:54 WIB

KAI Hadirkan Becak Listrik, Perkuat Pariwisata Berkelanjutan di Yogyakarta

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:42 WIB

Kapitalisme Religius Dipandang Mampu Menjawab Tantangan Dunia Islam Modern

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:00 WIB

Meluas ke Sekitar Rumah, Titik Api Misterius di Kasuran Jadi Sorotan

Rabu, 3 Juni 2026 - 15:54 WIB

Kasus Kematian Balita Usai CT Scan di RSUD Prambanan Masuk Penyelidikan Polda DIY

Berita Terbaru