JENDELANUSANTARA.COM, Moskow — Pimpinan parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan Teheran siap memberikan respons keras apabila Amerika Serikat memutuskan menyerang Iran. Pernyataan itu disampaikan menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump terkait program rudal dan nuklir Iran, Senin (12/2/2026).
Ghalibaf menegaskan, setiap langkah militer Washington akan dibalas oleh kekuatan pertahanan Iran. Ia menyebut Iran tidak akan tinggal diam jika kedaulatannya diganggu, seraya memperingatkan dampak serius bagi kepentingan AS di kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut disiarkan media pemerintah Iran, IRIB.
Ancaman itu muncul setelah Trump, pada akhir Desember lalu, menyatakan dukungannya terhadap kemungkinan serangan baru ke Iran apabila Teheran melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklir. Di tengah gelombang protes yang melanda Iran, Trump juga kembali melontarkan peringatan, dengan mengatakan akan menyerang Iran jika aparat menindak keras para pengunjuk rasa. Ia bahkan menyatakan kesiapan memberikan bantuan kepada rakyat Iran jika diperlukan.
Sementara itu, Iran masih bergulat dengan tekanan domestik akibat gelombang unjuk rasa yang berlangsung sejak Desember. Protes dipicu kekhawatiran publik terhadap inflasi yang melonjak, seiring melemahnya nilai tukar rial. Ketidakstabilan mata uang tersebut berdampak pada kenaikan harga barang grosir dan eceran.
Di tengah situasi itu, Gubernur Bank Sentral Iran Mohammad-Reza Farzin mengundurkan diri. Aksi protes kian meningkat sejak 8 Januari, menyusul seruan Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi 1979. Pada hari yang sama, pemerintah Iran memblokir akses internet di sejumlah wilayah.
Bentrok antara pengunjuk rasa yang menyuarakan slogan anti-pemerintah dan aparat kepolisian dilaporkan terjadi di beberapa kota. Sejumlah laporan menyebutkan adanya korban jiwa, baik dari pihak keamanan maupun demonstran. Namun, otoritas Iran pada Senin (12/1) menyatakan situasi berangsur terkendali. (ihd)













