JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Masa libur panjang kerap menyisakan dua persoalan klasik: berat badan naik dan stamina menurun. Pola makan yang kurang terkontrol serta minimnya aktivitas fisik membuat tubuh kehilangan kebugaran. Meski jalan kaki santai sering dipilih sebagai langkah awal berolahraga, para ahli menilai cara ini belum memadai untuk memulihkan kondisi fisik secara optimal.
Jalan kaki termasuk olahraga low-impact dengan tekanan rendah pada sendi dan jantung. Aktivitas ini bermanfaat melancarkan sirkulasi darah dan membantu tubuh kembali beradaptasi dengan gerak setelah periode kurang aktif. Namun, untuk membakar lemak akibat asupan kalori berlebih selama liburan, jalan santai dinilai belum memberi rangsangan yang cukup kuat.
Tubuh membutuhkan peningkatan intensitas agar sistem pembakaran energi bekerja lebih efektif. Tanpa tantangan tambahan, proses pemulihan kebugaran cenderung berjalan lebih lambat.
Salah satu cara yang disarankan adalah meningkatkan intensitas menjadi jalan cepat atau power walking. Aktivitas ini mampu menaikkan denyut jantung ke zona pembakaran lemak, yakni rentang detak jantung yang optimal untuk mengurangi simpanan energi berlebih. Dengan intensitas yang lebih tinggi, energi yang terbakar meningkat sekaligus memperbaiki daya tahan jantung dan paru-paru secara bertahap.
Para ahli juga menganjurkan agar jalan cepat dikombinasikan dengan latihan beban tubuh, seperti squat dan push-up. Latihan ini memanfaatkan berat tubuh sendiri untuk membantu memulihkan massa otot yang menurun selama masa liburan. Kombinasi keduanya dinilai efektif menjaga keseimbangan antara pembakaran lemak dan penguatan otot.
Dalam dunia kebugaran, peningkatan kapasitas jantung dan paru-paru atau VO₂ max hanya dapat dicapai melalui latihan dengan intensitas yang meningkat secara bertahap. Jalan santai berperan sebagai pemanasan awal, tetapi konsistensi dan progres latihan menjadi kunci utama pemulihan kebugaran.
Pakar kesehatan mengingatkan, olahraga berat secara mendadak, seperti langsung berlari jarak jauh, berisiko menimbulkan cedera. Pendekatan bertahap dengan pengaturan durasi, intensitas, dan frekuensi latihan justru lebih aman serta memberikan hasil yang berkelanjutan. (ihd)














