JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta – “Aku ingin my mom, my dad untuk berdamai.”
Kalimat itu meluncur pelan dari mulut Ardio Raihansyah Taulany, Kamis siang, 14 Agustus 2025. Putra sulung Andre Taulany itu duduk di depan kamera, suaranya tenang tapi bergetar. Baginya, perceraian orang tuanya hanyalah soal miskomunikasi. “Sebenarnya mereka baik-baik aja, enggak ada masalah apa-apa. Ini cuma urusan tidak berkomunikasi,” kata Dio, begitu ia disapa.
Dio, 19 tahun, kini berdiri di persimpangan yang sulit. Sebagai anak, ia menyaksikan langsung rumah tangga orang tuanya yang di mata publik tampak harmonis. Karena itu pula ia meminta agar gugatan cerai yang diajukan ayahnya dibatalkan. “Tolong gugatan ini bisa diberhentikan,” ucapnya.
Namun, suara Dio tak serta-merta menjadi pegangan. Andre, melalui kuasa hukumnya, Fahmi Bachmid, menolak anak-anak dilibatkan dalam konflik rumah tangga. “Sebagai seorang ayah, saya keberatan anak saya dibawa dalam konflik ini,” ujar Fahmi menyampaikan pesan Andre. Sang komedian merasa, anak-anaknya tak seharusnya dipanggil ke ruang sidang, apalagi dijadikan saksi.
Di sidang sebelumnya, Andre memang sempat bereaksi keras ketika majelis hakim membuka opsi melibatkan anak. Putrinya masih 16 tahun, sementara Dio baru 19 tahun. “Mereka tidak pantas dipaksa masuk ke pusaran konflik orang tuanya,” kata Fahmi.
Perjalanan perkara ini panjang. Gugatan pertama Andre pada April 2024 dengan nomor 1668/Pdt.G/2024/PA.Tgrs sempat ditolak majelis hakim. Alasannya, tidak terbukti ada perselisihan terus-menerus. Kini, setahun berselang, gugatan itu kembali dilayangkan.
Dio mencoba menjadi jembatan. Ia yakin, perceraian bukanlah jawaban. Tapi Andre tampak ingin menjaga garis tegas: konflik orang tua, biarlah hanya urusan orang tua. Anak, sejauh mungkin, harus tetap berada di luar pagar rumah tangga yang retak. (ihd)














