Belajar Budaya Swiss, Delegasi Pekerja Indonesia Asah Bahasa dan Diplomasi Global di ILC 114

Jumat, 12 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM,Jenewa, Swiss – Hari ke-11 pelaksanaan International Labour Conference (ILC) Session 114 di Jenewa menjadi momentum tersendiri bagi delegasi pekerja Indonesia. Tidak hanya aktif mengikuti berbagai sidang dan pembahasan isu ketenagakerjaan global, para delegasi juga mulai beradaptasi dengan budaya, bahasa dan kehidupan masyarakat Swiss yang dikenal disiplin serta tertib.

Di kota yang menjadi markas Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), para delegasi Indonesia belajar banyak hal yang tidak ditemukan di ruang sidang. Ketepatan waktu, budaya antre, kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, menghormati ketenangan di ruang publik, kepatuhan aturan hukum, hingga kesadaran menjaga kebersihan lingkungan menjadi bagian dari keseharian yang di jumpai selama berada di Jenewa.

Bagi masyarakat Swiss, aturan bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan budaya yang dijalankan bersama. Sampah harus dibuang pada tempatnya, pejalan kaki wajib mematuhi lampu penyeberangan, dan ketenangan ruang publik menjadi hal yang sangat dihargai, hingga kepatuhan terhadap aturan hukum menjadi pengalaman baru yang dirasakan para peserta dari Indonesia.

Di tengah aktivitas konferensi yang padat, para delegasi pekerja Indonesia juga mulai akrab dengan sejumlah ungkapan sederhana dalam Bahasa Prancis yang digunakan masyarakat Jenewa. Sapaan Bonjour (halo/selamat pagi), Comment allez-vous? (apa kabar), Excusez-moi (permisi), Merci (terima kasih), Merci beaucoup (terima kasih banyak), dan Au revoir (sampai jumpa) kini menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari.

Kemampuan berbahasa asing pun semakin terasah. Selain Bahasa Prancis dasar, Bahasa Inggris menjadi alat komunikasi utama dalam berbagai sidang komite, forum diskusi, hingga pertemuan bilateral dengan delegasi dari berbagai negara.

Salah seorang delegasi pekerja Indonesia dari unsur KSPSI Jumhur, Dewa Sukma Kelana, S.H., M.Kn., mengatakan pengalaman mengikuti ILC memberikan pelajaran berharga yang tidak hanya berkaitan dengan isu ketenagakerjaan internasional.

“Forum ini membuka wawasan kami tentang bagaimana negara-negara lain membangun sistem ketenagakerjaan yang kuat sekaligus memberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan delegasi dari berbagai belahan dunia,” ujarnya Kamis, (11/6/2026).

Dosen Universitas Pamulang (UNPAM) Serang, Banten, yang juga mahasiswa Program Doktor Hukum Keluarga Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu menilai kemampuan komunikasi internasional menjadi salah satu manfaat besar yang diperoleh selama mengikuti konferensi.

“Setiap hari kita berdiskusi, bertukar pandangan dan membangun jejaring dengan banyak pihak. Secara tidak langsung kemampuan berbahasa internasional semakin berkembang,” tuturnya.

Menurut Dewa, adaptasi terhadap lingkungan baru menjadi tantangan sekaligus pengalaman menarik bagi para delegasi Indonesia.

“Awalnya kami harus menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan masyarakat Swiss yang sangat menghargai waktu dan keteraturan. Namun perlahan mulai memahami mengapa budaya itu mampu menciptakan kenyamanan bagi semua orang,” gumamnya.

Ia mengaku banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kehidupan masyarakat Jenewa yang menjunjung tinggi kepentingan publik.

“Kedisiplinan masyarakat disini terlihat dalam hal-hal sederhana. Semua berjalan tertib tanpa harus diawasi secara ketat,” lirihnya.

Dewa berharap pengalaman yang diperoleh selama mengikuti ILC dapat menjadi bekal untuk memperkuat perjuangan pekerja Indonesia di masa mendatang.

“Saya datang untuk menyuarakan kepentingan pekerja Indonesia, tetapi pulang dengan membawa lebih banyak pengetahuan, pengalaman dan jaringan internasional yang sangat berharga. Semua itu akan menjadi modal penting untuk mendorong kemajuan dunia kerja di Indonesia,” tukasnya.

Forum ILC Session 114 yang dihadiri delegasi dari 187 negara anggota ILO tersebut menjadi ruang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi ketenagakerjaan sekaligus memperluas kerja sama internasional. Menjelang berakhirnya konferensi, para delegasi Indonesia masih mengikuti sejumlah sidang dan pembahasan penting mengenai masa depan dunia kerja, perlindungan pekerja, pengembangan keterampilan, serta tantangan ketenagakerjaan di era digital.

“Pengalaman yang dibawa pulang dari Jenewa diharapkan tidak hanya menjadi catatan perjalanan internasional, tetapi juga menjadi inspirasi bagi penguatan hubungan industrial yang harmonis, produktif dan berkeadilan bagi pekerja Indonesia,”ucapnya.

(Yuyi Rohmatunisa)

Berita Terkait

Iran-AS Bersiap Akhiri Konflik, Stop Operasi Militer, Blokade Laut Mulai Dicabut
Dosen UNPAM Serang Ambil Bagian dalam Sidang Perburuhan Dunia
MoU Iran-AS di Ujung Damai, Teheran Minta Media Menahan Diri untuk Tak Berspekulasi
Dewa Sukma Kelana, Konvensi 193 Jadi Kemajuan Besar bagi Pekerja Dunia
Ancaman Trump Dicemooh sebagai Keputusasaan, Iran Tegaskan Tak Gentar
Delegasi Indonesia Kagumi Ketepatan Waktu Transportasi Umum Prancis dan Swiss
Hari ke -8 Delegasi Tripartit Indonesia Kompak Suarakan Keadilan Kerja di ILC 2026
Delegasi KSPSI Jumhur Asal Banten Laksanakan Sholat Jumat di PTRI Jenewa

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 17:01 WIB

Iran-AS Bersiap Akhiri Konflik, Stop Operasi Militer, Blokade Laut Mulai Dicabut

Senin, 15 Juni 2026 - 08:11 WIB

Dosen UNPAM Serang Ambil Bagian dalam Sidang Perburuhan Dunia

Sabtu, 13 Juni 2026 - 12:44 WIB

MoU Iran-AS di Ujung Damai, Teheran Minta Media Menahan Diri untuk Tak Berspekulasi

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:04 WIB

Dewa Sukma Kelana, Konvensi 193 Jadi Kemajuan Besar bagi Pekerja Dunia

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:21 WIB

Belajar Budaya Swiss, Delegasi Pekerja Indonesia Asah Bahasa dan Diplomasi Global di ILC 114

Berita Terbaru

Yogyakarta

Mahasiswa Desak Akuntabilitas Pejabat dalam Forum Pancasila UGM

Selasa, 16 Jun 2026 - 14:23 WIB