JENDELANUSANTARA.COM, Bandung — Harapan yang semula bersinar di langit Stadion Si Jalak Harupat mendadak meredup pada Kamis sore itu. Penyerang tim nasional Indonesia dan Oxford United, Ole Romeny, harus ditandu keluar lapangan setelah menerima tekel keras dari gelandang Arema FC, Paulinho.
Laga penyisihan Grup A Piala Presiden 2025 sejatinya menjadi panggung pembuktian. Bagi Ole, turnamen pramusim ini tak sekadar ajang uji coba, tetapi juga ruang untuk menegaskan eksistensinya dalam skuat utama Oxford United. Satu gol telah ia sarangkan ke gawang Arema—penanda bahwa adaptasinya mulai berbuah.
Namun, keberanian dan determinasi pemain bernomor punggung 11 itu terhenti saat tekel Paulinho mengenai kakinya. Stadion senyap. Ole terguling, dan tak lama kemudian ditandu ke luar lapangan. Paulinho hanya diganjar kartu kuning.
“Pelanggaran seperti itu mestinya berbuah kartu merah. Bukan hanya soal aturan, tetapi soal masa depan pemain. Ole sedang membangun momentum, kepercayaan pelatih, dan kebugarannya untuk musim penuh di Inggris,” ujar pengamat sepak bola Akmal Marhali, Sabtu (12/7/2025).
Akmal menilai insiden itu tak hanya merugikan Oxford United, tetapi juga berdampak besar pada kesiapan tim nasional Indonesia yang bersiap menyambut babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
“Ole sedang dalam performa bagus. Golnya ke gawang Arema menunjukkan progres. Tapi insiden ini seperti membuyarkan semuanya. Saya hanya bisa berharap dia segera pulih dan tetap kuat secara mental,” ujarnya.
Pelatih Oxford United, Gary Rowett, sebelumnya telah memastikan bahwa cedera Ole tergolong serius. Kemungkinan ia melanjutkan turnamen sangat kecil.
Diboyong ke Oxford sejak paruh musim 2024/2025, pemain berdarah Belanda-Indonesia itu sejatinya tengah meniti jalan menanjak. Kompetisi di League One Inggris tak memberi ruang untuk setengah-setengah. Ole mesti siap secara fisik, mental, dan taktikal.
Kini, ia kembali menghadapi ujian. Bukan di lapangan hijau, tetapi di ruang perawatan dan pemulihan. Cedera menjadi jeda yang tak diharapkan, tetapi bisa jadi titik balik.
Di tengah sorotan kamera, tribun penuh sorak, dan panasnya laga pramusim, sepak bola kembali mengingatkan bahwa di balik skor dan statistik, ada tubuh dan jiwa yang harus dijaga. (ihd)














