JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta – Di pengujung 2024, sebuah video berdurasi beberapa menit dari pengonten Codeblu (CB) menggegerkan jagat maya. Dalam unggahannya, CB mengisahkan tentang nastar busuk yang didonasikan sebuah toko roti ternama ke panti asuhan. Tanpa menyebut nama, unggahan itu mengundang komentar netizen, beberapa di antaranya terang-terangan menyebut Clairmont. Sebuah “like” dari CB di salah satu komentar itu memperkeruh suasana.
Susana Darmawan, pendiri sekaligus CEO Clairmont, memilih untuk diam kala isu itu merebak. Baru pada April 2025, lewat kanal YouTube Grace Tahir, Susana membeberkan duduk perkara yang selama ini ia simpan.
“Kami memang ada program CSR, tapi bukan ke panti asuhan yang disebutkan di video itu,” kata Susana seperti disaksikan di video, Minggu (27/4/2025).
Menurut dia, sejak kabar tersebut mencuat, Clairmont langsung menghubungi panti asuhan yang disebut-sebut menerima nastar berjamur. Jawabannya tegas: tidak ada pengiriman dari Clairmont. Tak puas, Susana mengutus tim internal untuk menyelidiki lebih jauh. Hasilnya: nihil. Tidak ada bukti nastar busuk dikirim atas nama perusahaan.
Clairmont kemudian mencoba mengklarifikasi langsung kepada Codeblu. Kata Susana, kreator konten itu mengaku sudah memverifikasi informasi dengan pihak yayasan. Namun, dalam percakapan lanjutan, Codeblu disebut menyampaikan rasa bersalah dan menawarkan bantuan memulihkan reputasi Clairmont. Tawaran itu belakangan berubah aroma: ada proposal “consultant fee” sebesar Rp 600 juta, yang kemudian “didiskon” menjadi Rp 350 juta.
Bagi Susana, tawaran itu tidak masuk akal. “Kami happy ketika dibilang mau bantu, tetapi kenapa akhirnya malah ada biaya?” katanya. Merasa ada yang janggal, Clairmont melanjutkan investigasi. Dugaan mereka mengarah pada seorang mantan karyawan vendor maintenance, berinisial R. Ia disebut-sebut sebagai pihak yang menyerahkan nastar bermasalah kepada yayasan, tanpa sepengetahuan Clairmont.
Dugaan ini diperkuat rekam jejak R yang sebelumnya dipecat karena kasus kecurangan. “Kami punya bukti,” ujar Susana.
Dalam perbincangan itu, Susana juga membantah keras tudingan bahwa dirinya meminta uang Rp 5 miliar kepada CB. Menurut dia, nominal itu hanya mencerminkan kerugian perusahaan akibat krisis reputasi. Sejak video CB tayang, penjualan Clairmont disebut anjlok hingga 30 persen.
“Bukan sekadar sales turun. Nama baik kami hancur,” katanya.
Dalam catatan Tempo, dampak viral di media sosial terhadap brand memang tak main-main. Studi Edelman Trust Barometer 2024 mencatat, 63 persen konsumen Indonesia lebih mempercayai ulasan online ketimbang iklan resmi.
Nama besar Clairmont yang dibangun Susana sejak 1998 pun harus mempertahankan napas di tengah badai ini. Latar belakang Susana tak main-main: putri pendiri Matahari Department Store ini sempat menempuh pendidikan kuliner di Culinary Institute of America dan bisnis perhotelan di Cornell University. Clairmont sendiri lahir dari transformasi toko roti Jepang, Sun Merry, yang diakuisisi keluarganya.
“Kami ingin tampil dengan nuansa Prancis, lebih internasional,” kenang Susana.
Kini, sambil merapikan reputasi yang tercoreng, Susana memastikan satu hal: ia tidak akan tinggal diam. “Permohonan maaf boleh, tapi kami harus menunjukkan kerugian besar yang kami alami,” ujarnya. (ihd)














