Riset Ekspedisi Patriot: Potensi Ekonomi Transmigrasi Besar, Tata Kelola Berbasis Data Jadi Kunci

Rabu, 24 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Hasil riset Tim Ekspedisi Patriot (TEP) menegaskan bahwa kawasan transmigrasi di Indonesia menyimpan potensi ekonomi yang besar dan nyata. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat karena pengelolaannya belum berbasis data, sains, dan teknologi.

Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara menyampaikan hal itu saat menutup rangkaian diseminasi hasil riset TEP, kolaborasi Kementerian Transmigrasi dengan tujuh perguruan tinggi nasional, Selasa (23/12). Menurut dia, temuan para peneliti yang bekerja langsung di lapangan menunjukkan persoalan utama bukan pada ketiadaan sumber daya, melainkan pada lemahnya pemetaan dan integrasi kebijakan.

“Potensinya ada dan nyata. Yang kita butuhkan adalah data yang akurat, dukungan sains, dan pemanfaatan teknologi agar potensi tersebut benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat,” ujar Iftitah.

Tim Ekspedisi Patriot diterjunkan sejak Agustus hingga Desember 2025 di 154 kawasan transmigrasi dengan melibatkan sekitar 2.000 peneliti dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan IPB University. Program ini juga didukung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta sejumlah kementerian terkait, menjadikannya salah satu riset kolaboratif terbesar di kawasan transmigrasi, baik dari sisi cakupan wilayah maupun kedalaman data.

Hasil riset menunjukkan lebih dari 70 persen kawasan transmigrasi belum memiliki infrastruktur dasar yang berfungsi optimal, seperti jalan produksi, irigasi, air bersih, listrik, dan fasilitas pascapanen. Akibatnya, lebih dari 60 persen komoditas unggulan masih dijual dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah ekonomi justru dinikmati di luar kawasan.

Simulasi yang dilakukan tim peneliti memperlihatkan, perbaikan jalan produksi dapat menurunkan biaya logistik hingga 55 persen. Sementara itu, penambahan fasilitas pengolahan sederhana berpotensi meningkatkan harga jual komoditas sebesar 20–40 persen. “Investasi kecil yang tepat sasaran jauh lebih berdampak dibanding proyek besar yang tidak terhubung dengan rantai nilai,” kata Iftitah.

Riset juga mengidentifikasi beragam potensi ekonomi di berbagai wilayah, mulai dari pertanian pangan, sawit, sagu, perikanan, peternakan, energi terbarukan, hingga industri maritim. Setiap kawasan dinilai memiliki karakter atau “DNA ekonomi” yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan kebijakan yang spesifik dan berbasis data.

Berdasarkan simulasi lintas kampus, pengelolaan kawasan transmigrasi berbasis data berpeluang menarik investasi sebesar Rp 180 triliun hingga Rp 240 triliun dalam empat tahun ke depan, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kawasan hingga ratusan triliun rupiah per tahun.

Kepala BRIN Arif Satria mengapresiasi Program Ekspedisi Patriot yang menempatkan sains sebagai fondasi pembangunan kawasan transmigrasi. Menurut dia, kolaborasi lintas institusi tersebut menunjukkan bahwa riset dapat menjadi penggerak utama pengembangan ekonomi kawasan. “Ini memberi harapan baru bagi transmigrasi berbasis sains yang patut diapresiasi,” ujarnya.

Ke depan, Kementerian Transmigrasi berencana melanjutkan Program Transmigrasi Patriot melalui penguatan pendampingan kawasan, penyiapan proyek investasi, serta Program Beasiswa Patriot yang menempatkan mahasiswa pascasarjana untuk belajar langsung di kawasan transmigrasi.

Menutup kegiatan, Kementerian Transmigrasi memberikan penghargaan kepada tujuh perguruan tinggi yang terlibat dalam Tim Ekspedisi Patriot. Pemerintah menegaskan komitmen menjadikan kawasan transmigrasi sebagai mesin pertumbuhan baru pembangunan nasional. “Transmigrasi bukan masa lalu, melainkan masa depan pembangunan Indonesia,” ujar Iftitah. (rel)

Berita Terkait

Pesan Purbaya untuk Penerima LPDP: Jaga Etika, Keluarga Harus Kembalikan Dana
Purbaya Perketat Pembenahan Pajak, Bidik Rasio Perpajakan 12 Persen
Pimpinan OJK dan Jajaran Ramai-ramai Mundur, Otoritas Pastikan Pengawasan Berjalan
Purbaya Yakin Modal Fiskal-Moneter Cukup untuk Pertumbuhan 6 Persen
Redam PHK, Menkeu Pilih Buka Akses Modal Kerja ketimbang Beri Insentif
PPN 2026 Masih Dikaji, Pemerintah Menunggu Arah Pertumbuhan Ekonomi
Purbaya Pilih Barang UMKM untuk Bencana, Tolak Balpres Ilegal
Bea Keluar Batu Bara Berlaku 2026, Pemerintah Ingin Optimalisasi Penerimaan

Berita Terkait

Senin, 23 Februari 2026 - 16:56 WIB

Pesan Purbaya untuk Penerima LPDP: Jaga Etika, Keluarga Harus Kembalikan Dana

Senin, 9 Februari 2026 - 17:43 WIB

Purbaya Perketat Pembenahan Pajak, Bidik Rasio Perpajakan 12 Persen

Jumat, 30 Januari 2026 - 23:47 WIB

Pimpinan OJK dan Jajaran Ramai-ramai Mundur, Otoritas Pastikan Pengawasan Berjalan

Rabu, 31 Desember 2025 - 19:05 WIB

Purbaya Yakin Modal Fiskal-Moneter Cukup untuk Pertumbuhan 6 Persen

Rabu, 24 Desember 2025 - 12:56 WIB

Riset Ekspedisi Patriot: Potensi Ekonomi Transmigrasi Besar, Tata Kelola Berbasis Data Jadi Kunci

Berita Terbaru

Yogyakarta

Krista Exhibitions Buka 2026 dengan Jogja Food Expo

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:32 WIB