JENDELANUSANTARA.COM, Banten — Ketua Lembaga Studi Strategi Analisis dan Krisis (LSSAK), mengingatkan pentingnya menghargai warisan leluhur sebagai bagian dari perjalanan panjang kehidupan manusia yang terbentuk dari generasi ke generasi.
Menurutnya, setiap manusia yang lahir ke dunia merupakan hasil dari rangkaian panjang kehidupan para pendahulu. Secara genealogis, seseorang membutuhkan dua orang tua, empat kakek-nenek, delapan buyut dan jumlah leluhur yang terus berlipat ganda pada setiap generasi sebelumnya.
“Dalam 12 generasi terakhir yang mencakup sekitar 400 tahun, secara teori seseorang memiliki ribuan leluhur yang menjadi mata rantai hingga dirinya dapat hadir di dunia saat ini,” ujarnya Kamis, (4/6/2026).
Ia menjelaskan, jika ditelusuri hingga generasi ke-11, jumlah leluhur tersebut mencapai sekitar 4.094 orang. Mereka adalah individu-individu yang pernah menjalani kehidupan, membuat pilihan, menghadapi tantangan, serta melakukan berbagai pengorbanan yang pada akhirnya berkontribusi terhadap keberadaan generasi saat ini.
Karena itu, masyarakat diajak untuk memaknai keberadaan dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan unik. Setiap individu merupakan hasil dari perjalanan panjang sejarah keluarga yang terbentuk selama ratusan tahun.
“Kesadaran akan panjangnya mata rantai kehidupan ini hendaknya menjadi pengingat bahwa keberadaan kita adalah anugerah yang dibentuk oleh generasi demi generasi. Warisan tersebut perlu dihormati dengan menjalani hidup yang penuh tujuan, tanggung jawab dan rasa syukur,” katanya.
Ia berharap pemahaman mengenai pentingnya menghargai leluhur dapat mendorong masyarakat untuk lebih menghormati nilai-nilai keluarga, menjaga persatuan, serta meneruskan warisan positif kepada generasi berikutnya.
(Yuyi Rohmatunisa)














