JENDELANUSANTARA.COM, Bogor — Ember penampung air hujan yang dahulu kerap menghiasi sudut kelas kini tak lagi terlihat di MTsN 1 Kota Bogor. Atap yang bocor dan ruang belajar yang kurang nyaman telah berganti dengan deretan kelas yang lebih terang, rapi, serta dilengkapi mebel baru untuk menyambut tahun ajaran 2026/2027.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Revitalisasi Madrasah yang dijalankan pemerintah. Program ini tidak hanya memperbaiki kondisi fisik bangunan, tetapi juga menghadirkan lingkungan belajar yang lebih layak bagi siswa dan guru.
Manfaat revitalisasi itu dirasakan langsung oleh para peserta didik. Saat meninjau hasil pembangunan di MTsN 1 Kota Bogor, Rabu (10/6/2026), Menteri Agama Nasaruddin Umar berdialog dengan sejumlah siswa.
Salah satunya Asyila, siswi kelas VII, yang mengaku lebih nyaman belajar di gedung baru. Menurut dia, suasana belajar kini lebih tenang karena tidak lagi dihantui kekhawatiran atap bocor ketika hujan turun.
Bagi para siswa, perubahan tersebut bukan sekadar pergantian bangunan, melainkan menghadirkan ruang belajar yang mendukung konsentrasi dan semangat menuntut ilmu.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, revitalisasi madrasah tidak semata-mata bertujuan memperbaiki infrastruktur, tetapi juga menciptakan suasana pendidikan yang menyenangkan.
Menurut dia, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menempatkan sektor pendidikan sebagai prioritas pembangunan nasional. Karena itu, peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan terus didorong agar siswa nyaman belajar, guru nyaman mengajar, dan masyarakat memperoleh layanan pendidikan yang lebih baik.
Kunjungan tersebut turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Suyitno, Direktur Jenderal Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum Kuswara, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bogor Afan Rangkuti.
Pratikno menjelaskan, revitalisasi satuan pendidikan merupakan salah satu program prioritas pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pada 2025, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp13,28 triliun untuk pembangunan dan renovasi 17.573 satuan pendidikan di berbagai daerah.
Menurut dia, program tersebut akan terus dilanjutkan karena dinilai menjadi investasi penting dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional. Madrasah, kata Pratikno, harus memperoleh perhatian yang sama karena memiliki peran strategis dalam membentuk generasi bangsa.
Sementara itu, Direktur Jenderal Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum Kuswara menyebutkan revitalisasi MTsN 1 Kota Bogor didukung anggaran sekitar Rp5,5 miliar yang mencakup pekerjaan konstruksi dan pengadaan mebel.
Saat ini progres pembangunan telah mencapai sekitar 90 persen. Dari total 23 ruang kelas yang direvitalisasi, sebanyak 11 ruang telah selesai dan digunakan, sedangkan sisanya berada pada tahap penyelesaian akhir. Seluruh pekerjaan ditargetkan rampung pada 21 Juni 2026 sehingga seluruh ruang dapat dimanfaatkan saat tahun ajaran baru dimulai.
Perbaikan fasilitas tersebut juga berdampak pada meningkatnya minat masyarakat terhadap madrasah. Kepala MTsN 1 Kota Bogor Ahmad Tarmiji mengungkapkan jumlah pendaftar tahun ini mencapai 681 orang, sementara daya tampung sekolah hanya sekitar 320 siswa.
Lonjakan pendaftar itu, menurut Ahmad, menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap madrasah. Revitalisasi tidak hanya mempercantik bangunan, tetapi juga memperkuat citra madrasah sebagai lembaga pendidikan yang mampu bersaing dengan sekolah lainnya.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menilai peningkatan fasilitas pendidikan akan memperkuat posisi madrasah sebagai salah satu institusi pendidikan unggulan di Kota Bogor. Dengan sarana yang semakin memadai, kapasitas layanan pendidikan dapat ditingkatkan sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat.
Di balik bangunan yang kini berdiri lebih kokoh, tersimpan harapan baru bagi para siswa. Ruang-ruang kelas yang lebih nyaman memberi mereka kesempatan belajar dengan lebih tenang dan fokus. Dari ruang belajar yang semakin layak itulah, cita-cita para siswa perlahan dibangun, satu pelajaran demi satu pelajaran. (ihd)














