Presiden Venezuela Bantah Dakwaan di Pengadilan AS, Ketegangan Meningkat

Selasa, 6 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Venezuela Nicolas Maduro setiba di AS dalam kawalan petugas menuju pengadilan tempat dirinya disidang. (Reuters)

Presiden Venezuela Nicolas Maduro setiba di AS dalam kawalan petugas menuju pengadilan tempat dirinya disidang. (Reuters)

Maduro, yang didakwa dalam perkara konspirasi terorisme narkoba serta kepemilikan senjata api, menegaskan statusnya sebagai presiden Venezuela. Pernyataan itu disampaikan melalui penerjemah di hadapan majelis hakim. “Saya tidak bersalah. Saya seorang pria yang baik,” ujar Maduro, seperti dikutip media setempat.

Sikap serupa disampaikan istrinya, Cilia Flores, yang juga didakwa dalam perkara pidana yang sama. Flores menyatakan tidak bersalah atas seluruh tuduhan yang diarahkan kepadanya.

Pengadilan menjadwalkan sidang lanjutan terhadap pasangan tersebut pada 17 Maret mendatang. Hingga saat itu, Maduro dan Flores akan tetap berada dalam tahanan otoritas AS.

Di Caracas, Wakil Presiden Delcy Rodriguez resmi dilantik sebagai presiden sementara Venezuela, menyusul keputusan Mahkamah Agung Venezuela yang memerintahkannya mengambil alih kepemimpinan negara. Dalam pidato pelantikannya, Rodriguez mengecam keras operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Maduro.

Ia menyebut tindakan tersebut sebagai “agresi militer yang tidak sah terhadap tanah air kita” serta menyatakan keprihatinan atas “penculikan dua pahlawan yang kini disandera”. Rodriguez menjadi perempuan pertama yang menjabat presiden Venezuela, meski bersifat sementara.

Penangkapan Maduro dan istrinya oleh personel AS di kediaman mereka, lalu pemindahan cepat ke New York, memicu pertanyaan luas mengenai legalitas operasi tersebut menurut hukum internasional. Isu ini segera bergema di forum global.

Pada Senin, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelar rapat darurat. China dan Rusia kembali menyampaikan kecaman terhadap tindakan Amerika Serikat di Venezuela. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut menyuarakan keprihatinannya atas dasar hukum keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengizinkan operasi tersebut.

“Saya sangat prihatin bahwa prinsip-prinsip hukum internasional tidak dihargai,” ujar Guterres. Ia memperingatkan bahwa intervensi semacam itu berpotensi menjadi preseden buruk, mengingat Piagam PBB melarang ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap keutuhan wilayah dan kemerdekaan negara lain.

Sementara itu, di dalam negeri Amerika Serikat, respons publik terhadap langkah pemerintah terlihat terbelah. Survei The Washington Post menunjukkan 40 persen dari 1.000 responden mendukung penangkapan Maduro, sementara 42 persen menyatakan penolakan, mencerminkan polarisasi tajam atas kebijakan luar negeri Washington. (ihd)

Berita Terkait

Ketum TP PKK Jadi Panelis Side Event CSW70, Dorong Akses Keadilan bagi Perempuan
Serangan Israel di Lebanon Meluas, Beirut Selatan Dipenuhi Puing dan Ratusan Mayat
China Mulai Dekati Iran, Amerika Mengintip Indikasi Bantu Teknologi Rudal
Kisah Rano: Ada Jamaah Naik Taksi dari Doha ke Riyadh Rp85 Juta agar Bisa Terbang ke Indonesia
WNI di Qatar Desak Pemerintah Segera Lakukan Evakuasi
Iran Tolak Berunding dengan AS, IRGC Klaim Korban Sipil Tembus 700 Orang
IGRC Klaim Serang Markas Pertahanan Israel, Konflik Makin Tereskalasi
Isu Dugaan BBM Subsidi untuk Industri di Cilegon Mencuat, Ribuan Massa Bersiap Aksi

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 13:27 WIB

Ketum TP PKK Jadi Panelis Side Event CSW70, Dorong Akses Keadilan bagi Perempuan

Minggu, 8 Maret 2026 - 17:17 WIB

Serangan Israel di Lebanon Meluas, Beirut Selatan Dipenuhi Puing dan Ratusan Mayat

Sabtu, 7 Maret 2026 - 17:33 WIB

China Mulai Dekati Iran, Amerika Mengintip Indikasi Bantu Teknologi Rudal

Kamis, 5 Maret 2026 - 16:00 WIB

Kisah Rano: Ada Jamaah Naik Taksi dari Doha ke Riyadh Rp85 Juta agar Bisa Terbang ke Indonesia

Rabu, 4 Maret 2026 - 23:39 WIB

WNI di Qatar Desak Pemerintah Segera Lakukan Evakuasi

Berita Terbaru