Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menilai hasil tersebut sebagai sesuatu yang “wajar”, mengingat kompleksitas persoalan serta relasi kedua negara yang masih diliputi kecurigaan pascakonflik.
Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Baqaei menyebut pembicaraan berlangsung dalam atmosfer yang tidak kondusif. Ketegangan meningkat setelah konflik selama 40 hari yang, menurut Iran, dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel untuk kedua kalinya dalam kurun sembilan bulan terakhir.
“Tidak realistis mengharapkan kesepakatan tercapai hanya dalam satu hari perundingan,” ujarnya.
Menurut Baqaei, agenda pembicaraan mencakup isu-isu krusial yang saling berkaitan, mulai dari keamanan Selat Hormuz, program nuklir Iran, tuntutan reparasi perang, hingga pencabutan sanksi ekonomi dan penghentian konflik di kawasan.
Ia mengakui terdapat kemajuan dalam beberapa aspek, namun perbedaan pada dua hingga tiga poin utama menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan dengan Washington.
Dalam pernyataan terpisah melalui platform X, Baqaei menegaskan bahwa keberhasilan proses diplomatik sangat bergantung pada “keseriusan dan itikad baik pihak lawan”, termasuk kesediaan untuk tidak mengajukan tuntutan berlebihan serta menghormati hak-hak Iran.
Meski demikian, belum ada kejelasan mengenai kemungkinan dilanjutkannya putaran negosiasi berikutnya.
Sementara itu, Kantor Berita Mehr melaporkan bahwa delegasi Iran telah meninggalkan Pakistan. Pemerintah Pakistan sendiri mendapat apresiasi dari Teheran atas perannya sebagai mediator dalam perundingan tersebut.
Kebuntuan ini menegaskan bahwa upaya meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah masih menghadapi tantangan besar, terutama di tengah isu strategis yang melibatkan kepentingan geopolitik global. (Anadolu)














